Urang Awak Ini Pernah Bergelar Raja Otomotif Indonesia

Hasjim Ning, Raja Mobil Indonesia era Presiden Soekarno.

GETPOST.ID, Jakarta – Saat ini industri otomotif sangat berkembang di Indonesia. Jumlah merek otomotif dunia yang ekspansi dan membangun pabrik di Indonesia semakin banyak. Dalam lima tahun belakang, merek-merek otomotif asal China ekspansi dan mencoba peruntungan di pasar mobil RI.

Industri ini juga menjadi penyumbang devisa ekspor terbesar kategori industri manufaktur non-migas. Terbaru, model kendaraan elektrifikasi termasuk mobil listrik (EV) juga banyak dirakit di Indonesia untuk pasar Asia Tenggara (ASEAN) dan Australia.

Read More

Bisa dikatakan sekarang industri otomotif di Indonesia tidak kalah maju dengan negara lain. Dengan rata-rata penjualan sekitar satu juta unit per tahun, pasar otomotif Indonesia selalu menjadi incaran merek-merek otomotif global.

Namun, jauh sebelum ini, penjualan mobil di Indonesia belum sebesar hari ini. Ketika bangsa ini merdeka dan dipimpin pertama kali oleh Presiden Soekarno, pasar mobil sangat sedikit. Hanya orang kaya yang punya mobil. Maklum negara baru, setelah merdeka pada 17 Agustus 1945.

Di era Soekarno periode 1945-1966, industri otomotif belum ada. Bentuknya masih perdagangan mobil yang diimpor secara utuh dari Eropa atau Amerika Serikat. Mobil merek Jepang belum pada periode ini. Tak heran bila penjualan moibl di era Presiden Soekarno didominasi merek Amerika dan Eropa.

Pasar mobil di era Presiden Soekarno.

Pada era Soekarno, ada satu fasilitas perakitan mobil, yakni perakitan General Motors (GM) di Tanjung Priok, Jakarta, yang dibangun pada 1927. Perakitan ini kemudian diambil alih pemerintah RI pada 1949 dan namanya diubah: PN Gaja Motor.

Pada 1951, Presiden Soekarno membangun fasilitas perakitan mobil kedua di Lodan, Jakarta Utara.  Namanya NV Indonesia Service Company (ISC), yang punya keagenan merek Ford.

Berdasarkan berbagai literatur dan buku, pasar mobil Indonesia era Presiden Soekarno sekitar 70 ribu unit per tahun.

Dominasi Merek Amerika dan Eropa

Di era Soekarno, perdagangan mobil berpusat di Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya. Merek-merek otomotif asal Amerika Serikat seperti Chevrolet, Pontiac, Cadillac, Buick, Ford, Dodge, dan Chryler mendominasi perdagangan mobil di Indonesia. Begitu juga dengan merek asal Eropa;  Citroen, VW, Mercedes-Benz, Fiat, dan Citroen.

Perdagangan mobil saat itu dilakukan orang-orang tertentu. Pedagang besar mobil Indonesia era itu kebanyakan orang asing. Mereka adalah John C Potter, H O’Horne, Jan Spijker, J A Berkhamer, dan H Jonkhoff. Mereka menguasai perdagangan mobil di kota-kota besar macam Jakarta, Semarang, dan Surabaya.

Hanya sedikit orang pribumi di perdagangan mobil. Ada nama Soenaryo Gondokoesoema, yang menjual mobil Chevrolet dan Pontiac di Yogyakarta.

Tapi, di era Presiden Soekarno, ada satu nama pengusaha pribumi yang terkenal sebagai pedagang mobil jempolan. Namanya, Hasjim Ning, asal Minangkabau. Sejak  1930-an, pria berpangkat letnan kolonel di masa revolusi kemerdekaan RI sudah berniaga mobil Chryler dan punya bengkel mobil bernama Jakarta Motors Company.

Saking terkenalnya, Presiden Soekarno memberikan kepercayaan Hasjim menjadi Presiden Direktur NV Indonesia Service Company (ISC), perakitan mobil terbesar yang dimiliki pemerintah saat itu.

Sebelum menjadi orang nomor satu di ISC, Hasjim sudah berdagang mobil merek Chrysler, Dodge, dan Jeep.

Lantas siapa sebenarnya Hasjim Ning?

Hasjim Ning lahir di Nipah, Padang, Sumatra Barat, pada 22 Agustus 1916. Nama lengkapnya, Masagoes Noer Moechammad Hasjim Ning. Dia juga cucu Haji Ning, saudagar kaya raya Padang pada masanya.

Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta.

Hasjim Ning juga kerabat dekat Bung Hatta, Wakil Presiden RI. Sebab kakek Hasjim Ning merupakan ayah tiri Bung Hatta, karena menikahi ibunda Bung Hatta (Saleha), menurut buku Pasang Surut Pengusaha Pejuang, Otobiografi Hasjim Ning (terbit 1986).

Pada masa jayanya berniaga mobil, Hasjim banyak memasarkan mobil-mobil Amerika seperti Chryler, Dodge, dan Jeep.

Selain itu, Ning dan mitranya juga memiliki keagenan mobil Leyland dan Landrover, merek otomotif asal Inggris. Ning juga memiliki keagenan mobil Fiat (Italia).

Karena memiliki banyak keagenan mobil asal Amerika Serikat hingga Eropa, Hasjim Ning mendapat julukan ‘Raja Mobil Indonesia’ di masa Presiden Soekarno.  Bahkan mitranya di Amerika, sering memadankannya dengan nama ‘Henry Ford Indonesia’.

“Dan lainnya menyebut aku sebagai Raja Mobil,” kata Hasjim Ning seperti yang diungkapkan dalam buku Pasang Surut Pengusaha Pejuang, Otobiografi Hasjim Ning.

Karena sakit, Hasjim Ning meninggal dunia pada 26 Desember 1995, dalam usia 79 tahun.

Saat ini tak berjejak jelas nasib bisnis perniagaan mobil Hasjim Ning di zaman sekarang, selain diler mobil Java Motors di Jalan Kramat, Senen, Jakarta Pusat,  yang dikatakan banyak orang sebagai peninggalan Hasjim.

Rumah putih di Jalan Cikini Raya milik Hasjim Ning.

Namun, kebesaran namanya masih terpatri hingga hari ini sebagai Raja Mobil Indonesia era Presiden Soekarno, terutama bila publik melewati sebuah rumah besar berpagar putih dan berhalaman luas di Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat.

Related posts