GETPOST.ID, Jakarta- Para individu berkebutuhan khusus (IBK) memiliki kesempatan yang sama untuk tampil, berkembang, dan terhubung dengan dunia kerja. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Special Career Day 2025 – Inclusive Career & Talent Forum, sebuah ajang yang dirancang khusus untuk membuka akses karier yang setara dan inklusif.
My JCDC dan Yayasan Cita Anak Bangsa (YCAB) berkolaborasi menggelar Special Career Day 2025 ini yang dilaksanakan pada 10 Desember 2025 di My JCDC Kedoya, sekaligus memperingati Hari Disabilitas Internasional. . Special Career Day 2025 ini merupakan forum keempat yang diadakan oleh My JCDC. “Forum karier inklusif ini merupakan agenda tahunan kami sejak 2022. Kami berharap acara ini bisa berdampak positif dengan membuka peluang karier yang lebih inklusif bagi individu berkebutuhan khusus-special talent,” jelas Nadia Emanuella, Managing Director My JCDC, di Kedoya (10/12/2025).
Special Career Day 2025 mempertemukan para pencari kerja dari kalangan IBK dengan berbagai perusahaan dan institusi yang memiliki kepedulian terhadap praktik ketenagakerjaan inklusif. Melalui forum ini, peserta dapat mengenal peluang kerja, berinteraksi langsung dengan perusahaan, serta mendapatkan wawasan mengenai pengembangan potensi dan keterampilan kerja.
Tak hanya menghadirkan informasi lowongan kerja, kegiatan ini juga dilengkapi dengan berbagai program pendukung seperti sesi pengembangan karier, diskusi inspiratif, serta pengenalan lingkungan kerja yang ramah disabilitas. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan diri IBK sekaligus mempersiapkan mereka untuk beradaptasi di dunia profesional.
- Pernyataan Misbakhun Soal Rokok, Yayasan Kanker Indonesia: Rokok Penyebab Kanker paling bisa dicegah
- Apa itu Trombosit? Bagaimana jika jumlahnya Berlebihan? Waspadalah
- Rakornas YKI 2025 Libatkan 47 Cabang di Indonesia dan 165 Peserta

My JCDC juga menyediakan program vokasi, yakni program yang diberikan untuk IBK (Individu Berkemampuan Khusus) dari usia remaja hingga dewasa. Program ini diberikan untuk persiapan IBK ke jenjang karir . “Yang dikeluhkan para orang tua adalah, ‘nanti setelah anak saya selesai kuliah mau apa nih? Sudah selesai terapi mau apa?’ Dan ini memang masih sulit menjembatani mereka dan dunia kerja,” kata Nadia Emanuella, Managing director My JCDC .
Lebih lanjut dia mengatakan adanya aturan pemerintah untuk memenuhi 1 persen dari perusahaannya untuk bekerja itu yang disabilitas. Tapi diakuinya memang yang mudah dipekerjakan adalah disabilitas fisik dibandingkan mental. “Jadi program vokasi ini menjembatani dan mempersiapkan anak-anak ini untuk masuk ke dunia kerja, entah menjadi enterpreuneur atau kerja di korporat,” katanya sekaligus memberikan pembekalan kepada orang tua yang terus mendampingi si anak.
Dalam acara tersebut beberapa IBK menunjukkan bakatnya seperti Antonio (16) yang pintar melukis bahkan beberapa karyanya pernah dibuat untuk e-money, lalu ada Stefani (27) yang pintar meracik kopi dan memilih menjadi barista sehingga memiliki kedai di Surabaya.
- Ini Cerita Chemistry Cast Indonesia & Ji Chang-Wook di Abracadabra: The Galaxy of Ultimate Healing
- Drama Secret High School Ketika Tissa Biani Menyamar jadi Anak SMA
- Drama Korea My Troublesome Star, Uhm Jung Hwa dan Song Seung Heon Terikat Kisah Masa Lalu

BPJS Ketenagakerjaan
BPJS Ketenagakerjaan menegaskan bahwa individu berkebutuhan khusus (IBK) dipandang setara dengan pekerja lainnya, termasuk dalam hal perlindungan jaminan sosial ketenagakerjaan.
“BPJS ketenagakerjaan memandang IBK sama dengan pekerja lainnya. Secara pekerjaan yang dilakukan bisa dibedakan. Tiap perusahaan punya detil pekerjaan berbeda untuk special need. Memang sekarang ini mayoritas yang dipekerjakan adalah disabilitas fisik, tapi dengan pelatihan disabilitas mental juga bisa dilibatkan,” kata Lini Septiana Kepala Cabang BPJS Ketenagakerjaan Ciputat.
Dalam acara tersebut digelar 2 talkshow yakni talkshow pertama membahas “Potensi dan Kontribusi individu dengan special needs di dunia kerja” dengan narasumber; Lini Septiana Kepala Cabang BPJS Ketenagakerjaan Ciputat dan dr. Meiske Yunithree Suparman, M.Psi., Psikolog Kepala PBKP (Pusat Bimbingan dan Konsultasi Psikologi) Universitas Tarumanagara.
Talkshow kedua membahas tentang “Peran orang tua dalam membangun kemandirian anak dengan special needs dengan narasumber Sukri Budi Dharma yang akrab dipanggil Pak Butong Founder JDA – Jogja Disability Arts Foundation dan perwakilan orang tua dari special talent JCDC yaitu Simon Riawan.



