GETPOST. ID, Jakarta- Pagelaran Sabang Merauke – Hanya Indonesia yang Punya 2026 akhirnya resmi dipentaskan mulai Jumat 21 Agustus hingga Ahad 23 Agustus 2026 di Indonesia Arena, GBK Senayan. Mengangkat tema terbaru Hikayat Srikandi Nusantara, pertunjukan tahun kelima ini membawa kekayaan seni dan budaya Indonesia ke dalam satu perjalanan panggung yang mempertemukan cerita, musik, tari, akting, busana, serta teknologi.
Opening dibuka dengan sosok Srikandi yang diperankan oleh penyanyi Raisa. Srikandi beserta pasukannya siap melakukan perjalanan melintasi semua daerah di Indonesia untuk mengajak para wanita agar bersatu melawan ketidakadilan terhadap wanita.
Sosok Srikandi menjadi salah satu pintu masuk untuk membawa penonton pada kisah tentang keberanian, keteguhan, pengorbanan, cinta, serta berbagai nilai yang tetap dekat dengan kehidupan masyarakat saat ini.
Di bagian ini terlihat sekali penyajian secara kolosal yang apik di mana Raisa berada di tengah pasukannya seperti siap berperang.
Usai pertunjukan, Raisa mengungkapkan perasaannya sepanjang acara berlangsung. Ia mengaku harus menahan sisi asli dirinya demi tetap serius menjiwai karakter Srikandi dari awal hingga akhir pertunjukan.
Sejak pagi Raisa mengaku emosinya naik turun sebelum pentas dimulai.
“Maaf dari tadi Raisanya agak ditahan-tahan ya, jadi ini baru pertama kali senyum dari tadi pagi,” kata Raisa di jumpa wartawan usia pentas di Indonesia Arena GBK Senayan, Jumat, (22/08).
Sepanjang pertunjukan, Indonesia Arena terus berubah mengikuti perjalanan cerita. Ratusan penari memenuhi panggung dalam koreografi berskala besar, lalu ruang yang sama berganti menjadi lebih intim ketika perhatian beralih kepada perjalanan para karakter. Musik bergerak dari warna tradisional Nusantara menuju orkestra, paduan suara hingga lagu-lagu populer, sementara perubahan kostum, tata cahaya, visual, dan panggung membawa penonton berpindah dari satu bagian cerita ke bagian berikutnya.
Tidak jauh berbeda dengan Yura yunita yang masuk tahun ketiga terlibat dengan pagelaran kolosal ini.
Setiap tahun Yura selalu mendapatkan tantangan ekstrim dan kali ini dia harus terbang melewati atas penonton dengan slink yang begitu tinggi.
“Ini deg-degan banget. Sumpah, ” kata Yura yang memerankan karakter Mahadewi.
Kemunculan Yura sambil bernyanyi lagu Mahadewi bersama Padi Reborn di atas naga berkepala tiga membuat heboh penonton. Pasalnya hitungan waktu nya bisa tepat usai dia ‘terbang’ dan sudah muncul lagi di atas naga.
“Aku naik motor gays, ” kata Yura yang mengaku ini pertama kali naik motor di tengah pertunjukkan.
Aksi Yura terbilang mengagumkan ditunjang dengan kostum sehingga terlihat dramatis ketika berada di atas kepala naga.
Di balik pengalaman tersebut terdapat sekitar 1.700 pelaku seni, kreatif, dan tim produksi. Sebanyak 387 penari membawakan 104 koreografi karya 11 tim koreografer, bersama 15 penyanyi nasional dan satu grup band, 119 anggota paduan suara, 60 musisi orkestra, serta musisi yang memainkan 50 alat musik tradisional. Lebih dari 1.500 kostum tradisional, kontemporer, dan etnik Nusantara yang melibatkan 16 desainer turut membangun perubahan visual sepanjang pertunjukan.
Di balik tantangan teknis tersebut, Yura juga membagikan cerita mengenai kostum Mahadewi rancangan Ade Chan. Menurut Yura, proses pembuatannya diwarnai sejumlah pengalaman yang oleh tim dimaknai secara magis, mulai dari cerita para penjahit hingga pengalaman ketika kostum Mahadewi dipamerkan di Singapura. Bagi Yura, cerita-cerita tersebut justru memberi makna emosional tambahan pada perannya sebagai Mahadewi.
“Di balik kostum Mahadewi itu banyak cerita magis. Buat aku, kemunculan-kemunculan itu terasa dalam hal yang indah, seperti dikasih ijin untuk memakai bajunya dan memerankan Mahadewi,” ujar Yura.
Raisa dan Yura menjadi bagian dari deretan penampil lintas generasi dalam pertunjukan tahun ini bersama PADI Reborn, Indra Bekti, Mirabeth Sonia, Pradja Larasati, Christine Tambunan, Taufan Purbo, Risang Janur Wendo, Nino Prabowo, Galabby Thahira, serta sejumlah penyanyi dan pelakon lainnya.
Kehadiran banyak karakter dan penampil tersebut turut memperluas lanskap musikal pertunjukan. Sebanyak 28 lagu daerah dan nasional dirangkai dalam berbagai warna, mulai dari musik tradisional, orkestra dan paduan suara hingga band dan musik populer.
Skala musikal tersebut diperkuat oleh 60 musisi orkestra dan 119 anggota paduan suara di bawah arahan Avip Priatna, sementara Dunung Basuki mengarahkan penggunaan 50 alat musik tradisional agar tidak sekadar menjadi ornamen di tengah besarnya produksi. Dalam beberapa bagian, instrumen tradisional memberi warna pada aransemen; pada bagian lain, justru mengambil posisi utama dan membawa identitas musikal dari daerah yang diangkat.
Tari pun tidak sekadar berfungsi mengisi skala panggung. Dengan jumlah penari dan koreografi yang semakin besar dibanding penyelenggaraan sebelumnya, Sandhidea Cahyo, Koreografer Utama PSM, bersama 11 tim koreografer mengembangkan permainan formasi, layer, dinamika kelompok, serta interaksi antar-karakter agar 387 penari dan 104 koreografi tetap bergerak sebagai bagian dari cerita.
Kekuatan visual kemudian dibangun melalui lebih dari 1.500 kostum dengan keterlibatan 16 desainer. Di bawah arahan Priyo Oktaviano, Perancang Busana Utama PSM, kostum tidak hanya dirancang untuk menonjol secara individual, tetapi diperhitungkan bersama karakter, koreografi, pencahayaan, serta komposisi ratusan performer yang berada di panggung pada saat bersamaan.



