GETPOST.ID, Jakarta – Panitia penyelenggara Jakarta International Literary Festival (JILF) 2024 buka suara terhadap sejumlah tudingan utamanya soal ada logo Frankfurt Book Fair (FBF) dalam agenda JILF x JakTent 2024. Sebab FBF dinilai pendukung genosida di Palestina, yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang dijunjung tinggi para penulis dan sastrawan.
JILF x JakTent 2024 berlangsung sejak 27 November sampai 1 Desember di Taman Ismail Marzuki (TIM) Cikini, Jakarta Pusat.
Dalam siaran pers pada Getpost.id, panitia JILF tahun ini menjelaskan logo FBF dicantumkan dalam agenda JILF x JakTent 2024 sebagai konsekuensi kerja sama yang terjalin antara JakTent dengan FBF sejak 2020.
“Namun, semua agenda yang dirancang JILF x JakTent 2024 tidak pernah diintervensi oleh pihak sponsor mana pun termasuk FBF. Mulai dari tema, sesi diskusi, dan pilihan pembicara adalah hasil kurasi independen dari kurator dan panitia. Kami justru dengan tegas menyatakan bahwa agenda JILF x JakTent adalah ruang aman bagi semua pihak untuk menyuarakan soal-soal sastra dan kaitannya dengan kehidupan kita,” tulis panitia.
Selanjutnya, panitia meminta maaf dan berharap persoalan yang sedang berkembang ini, terkait sponsor dan kerja sama JILF x JakTent bisa terus membuka ruang diskusi yang produktif, baik yang terkait dengan apa yang bisa kita lakukan bersama untuk mendukung kemerdekaan Palestina maupun upaya membuat ekosistem sastra dan perbukuan kita bisa berjalan dengan lebih mandiri.

Dukungan pada Palestina
Sebelumnya, panitia menegaskan dukungan terhadap suara-suara komunitas yang terpinggirkan utamanya para penulis dan seniman Palestina. Maka itu, kami menyuarakan mereka di panggung sastra dan literasi seperti dalam JILF x JakTent tahun ini dan tahun-tahun sebelumnya.
Seperti pada JILF 2019, panitia mengundang penulis Palestina Adania Shibi sebagai pembaca pidato kunci di acara pembukaannya. Kemudian pada JekTent 2023, kami mengundang Maya Abu Al-Hayat, penyair asal Palestina.
Yang terbaru, Oktober 2024, kami mengundang mantan Menteri Kebudayaan Palestina Atef Abu Saif dalam acara “Road to JILF”, yang berbicara tentang bukunya, A Diary of Genocide.



