Liburan di Belgrade, Serbia: Salju, Setir Kiri, dan Gereja Santo Sava

GETPOST.ID, Beograd – Pada liburan Natal dan Tahun Baru ini, pembaca Getpost.id bernama Palty Silalahi membagikan ceritanya mengunjungi Serbia di Eropa Timur. Negara ‘baru’ yang lahir setelah Yugoslavia bubar pada 1992-an.

Palty tiba di Belgrade atau Beograd, ibu kota Serbia pada 21 Desember 2024. Kota besar ini terletak di pertemuan Sungai Sava dan Danube, serta mempunyai dua wilayah besar, yakni Pusat Kota Beograd (City Center) dan Beograd Baru (Novi Beograd).

Read More

Jalanan di ibu kota Serbia ini dipenuhi berbagai mobil dari beragam merek dan tipe. Tidak terlalu banyak rambu lalu lintas, mengedepankan skala prioritas berkendara. Misalnya yang tujuan lurus diprioritaskan daripada yang berbelok, mendahulukan pejalan kaki yang menyeberang, berkecepatan sesuai aturan kecepatan jalan yang dilalui, dan pengendara lainnya akan bereaksi bila ada yang melanggar sistem skala prioritas ini.

Palty Silalahi bersantai di cafe, Belgrade, Serbia.

Di pusat kota tersedia area parkir berbayar melalui pesan teks (SMS) dengan pembagian zona parkir berbayar berdasarkan durasi lama mobil diparkir. Bila parkir kendaraan tidak di tempatnya, Anda akan didenda langsung atau via pos yang dikirimkan ke alamat registrasi kendaraan dan dikenai denda yang mahal. Dengan segala peraturannya, para pengendara di Serbia dibilang cenderung agresif, jarang terlihat kendaraan berjalan dengan santai. Semua seperti terburu-buru dikejar waktu.

Pucuk dicinta ulam tiba. Saya dipinjamkan sebuah mobil: Mini Clubman John Cooper Works ALL4 lansiran 2021 untuk menjelajahi kota Belgrade.

Bermesin 2.0 L Twin Turbo 4 Cylinder, 7 Percepatan otomatis, dan berpenggerak 4 roda plus mode berkendara salju, mobil ini melaju dengan lembut tapi bertenaga di jalan-jalan menanjak perbukitan di Pusat Kota Belgrade. Kami melaju cepat dan gagah melibas jalan raya nan mulus dan rata di Novi Beograd (Kota Baru Belgrade).

Terus terang saya butuh adaptasi untuk mengendarai mobil di Belgrade. Sebab negara ini menggunakan setir kiri, artnya tuas transmisi sebelah kanan. Agak kikuk awalnya, karena tidak terbiasa bagi orang Indonesia yang menggubakan setir kanan.

Belum lagi penyesuaian lebar kendaraan dan kepekaan terhadap lebar kendaraan, menjadi perhatian khusus bagi saya. Maklum, baru pertama kali mengendarai mobil sistem kemudi kiri. Yang bikin bingung adalah di sepanjang jalan di pusat kota, banyak kendaraan parkir pada bagian kiri dan kanan jalan kota, serta trotoar di jalan raya.

Harga  bensin di Serbia rata-rata 163 dinnar, setara Rp 24.000. Tapi pernah juga mencapai harga tertinggi: 210 dinnar alias Rp 30.000 per liter.

Saat keliling kota, salju sedang turun di Belgrade. Dataran sejauh mata memandang jadi putih, wow! Saya pun jadi lebih berhati-hati membawa mobil, terutama saat melaju di di atas permukaan salju.

Gereja Santo Sava Rayakan Natal 7 Januari

Saat di Belgrade, kami mengunjungi beberapa tempat menarik. Salah satunya Gereja Santo Sava,  bergaya Neo-Bizantum. Gereja ini merupakan gereja terbesar di Eropa Timur dan Eropa Selatan, serta salah satu rumah ibadah Ortodoks terbesar di dunia. Gereja Santo Sava juga ikon negara Serbia.

Gereja Santo Sava dibangun untuk menghormati Santo Sava (1175-1236 M). Konon gereja ini dibangun di atas lembah Vračar, tempat dibakarnya pusaka Santo Sava oleh Wazir Agung Utsmaniyah Sinan Pasha pada 1595 sebagai hukuman atas pemberontakan Serbia pada 1594.

Gereja megah ini berdinding mozaik pada bagian dalam. Dikerjakan secara berkesinambungan oleh sukarelawan seni mozaik dari beberapa negara dan melakukannya secara sukarela. Di sebelah kiri gereja Santo Sava, terdapat kapel kecil yang keseluruhan dinding terdapat lukisan cat minyak menyelimuti seluruh sisi dinding bangunan.

Ruang kebaktian tanpa kursi tempat duduk bagi jemaat, dan jemaat yang mengikuti kebaktian pun berdiri untuk mengikuti kebaktian yang rata-rata berlangsung selama 2 jam.

Menariknya, Gereja Ortodoks tidak melaksanakan perayaan Natal pada  25 Desember seperti gereja-gereja Katolik atau gereja-gereja Protestan pada umumnya. Gereja Ortodoks ini melaksanakan perayaan Natal pada  7 Januari setiap tahun, dan melaksanakan ibadah puasa selama 40 hari sebelum perayaan Natal tersebut (bersambung).

Penulis: Palty Silalahi

 

Related posts