GETPOST.ID, Qatar– Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) menjadi event organizer dalam pelaksanaan Piala Dunia 2022 di Qatar. Keterlibatan relawan atau volunteer dari seluruh dunia membantu sukseskan hajatan sepak bola terbesar di dunia ini.
FIFA World Cup Qatar 2022 memiliki total 20.000 volunteer dari seluruh dunia. Sebanyak 15.000 orang merupakan warga lokal (Qatar), sedangkan sisanya, 5.000, adalah volunteer internasional alias dari seluruh dunia. Ternyata dari 5.000 orang itu, ada volunteer asal Indonesia. Jumlahnya 14 orang. Tak banyak memang, tapi lebih banyak dibandingkan FIFA World Cup Rusia 2018 yang hanya 2 orang.
Relawan Asal Indonesia
Laporan langsung dari Getpost.id, Pasha Usman yang sedang berada di Doha menyambangi sejumlah volunteer Indonesia yang tengah day off. Pasha berjumpa dengan beberapa relawan, yaitu Luvita, Nanda, Yulia, Zalma, Dewi, Angga, dan Aldo. Luvita yang didaulat menjadi “ibunya” volunteer Indonesia, bertugas di FIFA Fan Festival (FFF) di Corniche, Doha. Sedangkan sisanya kebanyakan bertugas di stadium baik di dalam maupun di luar.
“Saya mulai bertugas jam 14.00 hingga 22.00 di FIFA Fan Festival. Kadang di bagian information desk atau media center,” ujar Lulu membuka obrolan dengan ramah.
Di information desk, Lulu seperti bekerja di bagian customer service perusahaan. Ratusan fans setiap hari “mampir” ke tenda Information Desk FFF. Luvi pun harus pandai menjawab segala pertanyaan dan keluhan yang diungkapkan fans sepak bola yang berkumpul di FFF.
Baca:
– Laporan dari Qatar, Pengalaman Menginap di Fan Village Cabin untuk Penonton Piala Dunia 2022
Untunglah Luvi sudah mendapat pembekalan sangat lengkap dari FIFA sebelum terbang ke Qatar. “Kami, volunteer, mendapat e-book tentang beberapa topik tentang pengaturan event, crowd management, conflict management, stress management, handling supporter, dan sebagainya. Termasuk pelatihan studi kasus berdasarkan studi ajang Piala Dunia sebelumnya,” katanya.
Luvi (46) yang bekerja paruh waktu di Jakarta sebagai virtual asisten mengaku happy dan senang terus sebagai volunteer FIFA World Cup Qatar 2022, terutama di lokasi FFF. Ya, FFF adalah sangat strategis di setiap gelaran Piala Dunia
Pasalnya, di sini lah titik kumpul terbesar para fans FIFA World Cup Qatar, selain fans yang memiliki tiket di stadium. Saking strategisnya, tak sedikit tokoh atau atlet sepakbola serta artis internasional berkunjung ke FFF untuk mendapat vibes piala dunia tahun ini.
“Ngak ada susahnya. Pokoknya senang terus bertugas di FIFA Fan Fest. Luvi sering bertemu VVIP termasuk Presiden FIFA, David Beckham, penyanyi internasional Maluma, dan sebagainya,” ujarnya senang.
Meski sering dikunjungi VVIP, tenaga volunteer punya kode etik saat bertugas. Selama menggunakan seragam volunteer, Luvi dan kawan-kawan tidak boleh berbicara dengan tamu VVIP. Apalagi meminta foto atau tanda-tangan.
Cerita menarik juga datang dari Angga, volunteer yang banyak bertugas di luar stadium: bagian Spectator Services. Menurut mahasiswa asal Jakarta ini, secara umum tugasnya adalah membantu para polisi menangani para suporter di luar stadium.
Baca:
– Kemegahan Masjid Sultan Qaboos di Muscat Oman
– Efek Pandemi, Begini Kondisi di Sekitar Masjid Nabawi, Madinah
– Berbelanja di Pasar Muttrah Souq, Muscat Oman, dengan Kurs Rp 40 Ribu
Hingga hari ke-16 Piala Dunia Qatar ini, Anggga mengaku banyak menangani suporter “bandel” terutama dari beberapa negara tertentu yang “sulit” diatur. “Seperti kelompok suporter timnas Maroko, karena sering merokok di area sekitar stadium yang dilarang merokok. Mereka sering memaksa masuk, tanpa membeli tiket. Untunglah tugas kami intinya membantu para polisi di sini,” ungkap Angga.
Kesan dan harapan Volunteer
Luvi mengaku sangat bersyukur dapat menjadi volunteer FIFA World Cup Qatar 2022. Meski FIFA tidak mengongkosi para volunteer tiket pesawat ke Qatar. Ya, sebagai volunteer FIFA World Cup Qattar 2022, mereka harus membeli tiket pesawat sendiri. Harga tiketnya pun tidak murah, puluhan juta rupiah.
Beruntung, Luvita dkk mendapat dukungan tepat waktu supaya dapat “terbang” ke Qatar. Yang pertama datang dari Snack Video, aplikasi video singkat. Kemudian PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) lewat program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TSJL) dan terakhir Torch, produsen kebutuhan traveling.
“Mereka sangat membantu kami, kebutuhan volunteer Piala Dunia Qatar,” ungkap Luvi sambil memeragakan salam “satu Pelindo untuk Indonesia maju”.
Masih bertugas hingga 18 Desember mendatang, Luvi mengaku Piala Dunia Qatar pengalaman yang sangat berharga dan tidak ternilai baginya. Meski tidak mendapat kompensasi berupa uang, segala kebutuhan volunteer seperti akomodasi termasuk makan-minum, akses transportasi, dan seragam dari topi hingga sepatu, semuanya disediakan oleh FIFA dan panitia lokal.
“Bayangkan kami bertemu orang-orang dari seluruh dunia di negara kecil yang sangat luar biasa ini. Dan saya berada di dalamnya,” ujat Luvi terharu sambil mengutarakan harapannya ingin kembali menjadi volunteer di FIFA World Cup 2026 di USA, Meksiko, dan Kanada.
Menurutnya, satu hal menarik adalah, sebagai perempuan, dirinya merasa sangat aman dan nyaman selama berada di Qatar. “Saya tidak merasa takut atau khawatir selama berjalan sendiri kala malam.”
Sementara Angga juga bangga dan berharap pengalamannya membantu gelaran Piala Dunia Qatar menjadi inspirasi bagi banyak orang. Padahal Angga harus membeli tiket pesawat ke Qatar dua kali akibat gagal “terbang” karena masalah di Imigrasi RI.
“Terpaksa beli tiket lagi, harganya tidak murah, jutaan rupiah. Tapi ini one lifetime achievement yang seru, dan kami resmi menjadi keluarga besar FIFA,” kata Angga sangat bangga.
Kini FIFA world Cup Qatar sudah memasuki babak knoct out. Hingga hari ke-16, Luvi dan kawan-kawan masih mengharapkan dukungan pemerintah Indonesia kepada mereka yang “mewakili” Indonesia di event sepak bola terbesar sejagat. “Belum ada pejabat asal Indonesia yang menengok kami di sini,” ungkap Luvita yang menginformasikan pada 6 Desember Kedubes RI untuk Qatar mengundang mereka.
Untuk menjaga kesehatan selama piala dunia, Luvi dkk rajin minum vitamin. Apalagi setiap hari saat bertugas, para volunteer sering berjalan kaki.Rata-rata 20.000-30.000 langkah per hari, atau setara 10 km.”Untunglah makanan di sini sehat-sehat, tidak pakai penyedap rasa,” ucap Luvi sambil tertawa lepas.



