GETPOST.ID, Jakarta – Komite Pencak Silat Tradisi Indonesia (KPSTI) menggelar acara Tasyakuran dan Tafakur Retrospeksi enam tahun pengakuan Pencak Silat Tradisi sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia oleh badan PBB, UNESCO.
Acara digelar di Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, kemarin (14/12).
Acara ini menjadi momentum refleksi atas perjalanan pencak silat tradisi, sejak ditetapkan UNESCO pada 12 Desember 2019, sekaligus wadah evaluasi dan penguatan komitmen bersama dalam pelestarian, pengembangan, serta pemajuan pencak silat tradisi, sebagai identitas budaya bangsa Indonesia.
Menariknya, acara ini dihadiri Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon, Dirjen Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan Restu Gunawan, dan para tokoh pencak silat tradisi, budayawan, dan sesepuh perguruan silat.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam sambutannya mengapresiasi inisiatif KPSTI menyelenggarakan kegiatan reflektif tersebut.
Menurutnya, pencak silat merupakan ekspresi budaya yang sarat nilai, filosofi, dan pembentukan karakter bangsa, serta bagian dari amanah konstitusi untuk memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia.
“Kami harapkan acara ini menghasilkan rumusan gagasan dan rekomendasi strategis yang dapat menjadi dasar langkah bersama dalam pelestarian dan pemajuan pencak silat tradisi Indonesia baik di tingkat nasional maupun global,” ujar Menteri Fadli Zon dalam siaran pers.
Pada kesempatan ini, KPSTI juga menetapkan pergantian antarwaktu Ketua Umum KPSTI periode 2024–2028. Dr Nur Ali, yang semula menjabat Ketua Umum, selanjutnya mengemban amanah sebagai Ketua Harian KPSTI. Sedangkan jabatan Ketua Umum KPSTI diamanahkan kepada KH Mahfudz Abdurrahman. Keputusan ini ditetapkan di Jakarta pada 5 Mei 2025 dan berlaku sejak tanggal penetapan.

Ketua panitia H Yusron Sjarief menjelaskan, kegiatan tasyakuran ini tidak hanya dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur, tapi juga ruang refleksi strategis bagi masa depan pencak silat tradisi Indonesia.
“Enam tahun pasca-pengakuan UNESCO, kita perlu melampaui euforia dan mulai merumuskan arah lebih jelas bagi pengembangan pencak silat tradisi. Melalui sarasehan ini, kami berharap lahir gagasan-gagasan strategis untuk menjawab tantangan zaman,” ujar Yusron.
Ketua Umum KPSTI KH Mahfudz Abdurrahman mengatakan, pengakuan UNESCO merupakan peristiwa sejarah yang harus dimaknai dengan tanggung jawab bersama. Pencak silat tradisi tidak hanya untuk diakui, tapi harus terus hidup, berkembang, dan diwariskan.
“Ini adalah amanah budaya yang harus kita jaga bersama sebagai bagian dari jati diri bangsa,” kata Mahfudz.



