GETPOST.ID, Jakarta- Selama ini orang berfikir wanita yang terkena kanker payudara adalah wanita yang sudah berumur dewasa di atas 40 tahun dan memiliki riwayat belum pernah melahirkan dan menyusui atau memiliki genetik kanker.
Tapi tak banyak yang menyadari jika wanita di usia 20 tahun an juga memiliki risiko tinggi terkena kanker payudara. Pada webinar yang digelar Yayasan Kanker Indonesia (YKI) bekerjasama dengan perusahaan farmasi multinasional yang berfokus dalam penelitian dan pengembangan obat dan vaksin inovatif, Merck Sharp & Dohme (MSD), menyosialisasikan pentingnya kewaspadaan terhadap kanker payudara subtipe tripel negatif (TNBC) yang dikenal lebih agresif dari jenis kanker payudara subtipe lainnya.
TNBC menjadi penyebab sekitar 10-20 persen kasus kanker payudara secara total dan menyerang wanita dibawah usia 40 tahun. Menurut sebuah penelitian pada 2014, kejadian TNBC menjadi terbesar kedua di Indonesia diantara tipe kanker payudara lainnya dengan persentase 25 persen.
“Jenis kanker subtipe triple negatif itu lebih banyak diderita wanita usia muda di bawah 40 tahun, bahkan ada yang berusia 20 tahun di Indonesia,” kata Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Konsultan Hematologi Onkologi Medik Prof. DR. dr. Ami Ashariati, SpPD.-KHOM dalam webinar bersama YKI dan MSD, yang dihadiri Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia, Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, dan George Stylianou, Managing Director MSD di Indonesia Kamis, 21 Oktober 2021.
Lebih lanjut Ami menjelaskan risiko empat kali lebih tinggi jika memiliki genetik, misal kakak, saudara, adek atau ibunya yang juga menderita kanker payudata. ” Tapi bisa juga yang memiliki genetik tidak terkena kanker sama sekali. Genetik yang diwariskan hanya sebesar 30 persen, lebih banyak dengan gaya hidup dan pola makan,” kata Prof Ami.
Baca juga:
– Ragam Terapi Atasi Kanker Payudara, Hidup Sehat dan Deteksi Dini Tetap Kunci Awal
– Kasus Baru Meningkat, SEABCS ke-5 Ajang Kerjasama untuk Kendalikan Penyakit Kanker Payudara
Peluang untuk terkena kanker lebih tinggi jika menstruasi terlalu dini di usia di bawah 12 tahun, wanita yang memiliki anak tapi tidak menyusui, produksi estrogen yang tinggi lantaran terapi hormon atau menggunakan KB hormon dalam jangka waktu lama, obesitas di atas usia 50 tahun, wanita menopause yang mengkonsumsi obat hormonal, merokok, minum alkohol serta gaya hidup yang tidak sehat.
Menurut sebuah penelitian pada 2014, kejadian Berdasarkan data SEER dari the American Cancer Society yang dikelola oleh the National Cancer Institute (NCI), secara keseluruhan tingkat kelangsungan hidup 5 tahun untuk kanker payudara triple negative adalah 77 persen, tetapi pasien kanker payudara triple negative stadium lanjut dengan metastasis jauh memiliki tingkat kelangsungan hidup 5 tahun yang jauh lebih rendah yaitu 12 persen. Meski kanker payudara triple negatif memiliki gejala yang serupa dengan jenis kanker payudara lainnya Ami Ashariati menjelaskan.

“Saat kanker payudara didiagnosis melalui tes pencitraan dan biopsi, sel-sel kanker akan diteliti untuk fitur tertentu. Jika sel-sel kanker tidak memiliki reseptor estrogen atau progesteron, dan juga tidak memproduksi protein HER2, maka kanker ini dikategorikan sebagai jenis kanker payudara tripel negatif. Kanker ini sangat agresif sebab tumbuh begitu cepat dan dapat tumbuh kembali meski setelah diobati,” katanya.
Lebih lanjut Ami menjelaskan bahwa modalitas pengobatan pada kanker payudara secara umum terdiri dari 3 hal pokok yaitu operasi, radiasi, dan terapi sistemik berupa kemoterapi, terapi hormonal, terapi target dan imunoterapi. Pemilihan modalitas pengobatan dengan mempertimbangkan banyak hal, tetapi ada 2 hal yang penting yaitu stadium dan subtipe kanker payudara, baru kemudian faktor lain seperti usia dan penyakit penyerta lainnya.
Opsi pengobatan kanker payudara triple negative stadium awal, local-lanjut atau metastasis pada prinsipnya sama dengan subtipe yang lain, akan tetapi masih sangat terbatas hasilnya karena mepunyai sifat tumbuh Kembali lebih cepat walaupun sudah diobati dengan benar.
Pada Stadium awal dapat dilakukan prosedur operasi lumpektomi atau mastektomi dengan mengangkat juga kelenjar getah bening di dekatnya untuk melihat apakah kanker telah menyebar. Setelah melakukan lumpektomi, biasanya diikuti dengan terapi radiasi; sedang bila setelah mastektomi akan dilakukan terapi radiasi bila didapatkan penyebaran ke kelenjar getah bening minimal 4 atau lebih.
“Dalam prosedur ini, tidak sedikit pasien yang melakukan rekonstruksi payudara bersamaan dengan mastektomi untuk tujuan estetika,” ujar Ami.
Pada stadium metastatik atau telah menyebar ke organ lain seperti paru atau liver, atau otak, dilakukan terapi sistemik seperti kemoterapi. Ami menuturkan bahwa sejalan dengan perkembangan teknologi pengobatan, kini juga tersedia pengobatan kanker payudara triple negative dengan imunoterapi yang memberikan harapan hidup lebih panjang.
Lebih lanjut Prof. Ami menghimbau kepada masyarakat untuk melakukan pencegahan kanker payudara dengan melakukan SADARI dan deteksi dini kanker payudara, “Sebab kanker dapat disembuhkan jika ditemukan pada stadium awal, dan segera berkonsultasi dengan dokter jika terdapat gejala. Selain itu, dibarengi dengan penerapan pola hidup sehat, makan makanan bergizi, berhenti merokok, tidak mengonsumsi alkohol, berolah raga secara teratur, dan jangan lupa menghindari stress dan cukup istirahat.”
Alia F



