مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ، فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلًا، لَا يُشْرِكُونَ بِاللَّهِ شَيْئًا، إِلَّا شَفَّعَهُمُ اللَّهُ فِيهِ
Artinya:
“Tidaklah seorang Muslim meninggal dunia, lalu jenazahnya disalatkan oleh empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun, kecuali Allah akan menerima syafaat mereka untuknya.”
HR. Muslim, no. 948.
Karena itu, memilih sahabat tidak semata-mata soal siapa yang menyenangkan untuk diajak menghabiskan waktu, tetapi juga siapa yang dapat membawa seseorang lebih dekat kepada Allah SWT.
Semakin bertambah usia, ukuran pertemanan pun dapat berubah. Kuantitas tidak lagi menjadi hal utama. Seseorang cenderung mencari hubungan yang lebih bermakna dengan orang-orang yang dapat saling menguatkan dalam kebaikan dan mengingatkan tentang kehidupan setelah kematian.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa persahabatan yang dibangun karena Allah tidak berhenti pada kepentingan duniawi. Hubungan itu diharapkan menjadi bagian dari amal kebaikan dan terus memberikan manfaat hingga seseorang menghadap Allah SWT.
Pada akhirnya, lingkaran pertemanan yang semakin kecil bukan selalu berarti kehilangan banyak orang. Bisa jadi, hal itu merupakan proses untuk menemukan sahabat-sahabat yang benar-benar hadir karena Allah, bukan semata karena kepentingan dunia.
“Di media sosial sering kali kita melihat kalimat ‘jangan terlalu baik pada orang nanti dimanfaatkan.’ Padahal dalam Islam kita diminta untuk saling berbuat kebaikan walau tidak dibalas oleh orang tersebut tapi Allah akan menempatkan kita dengan orang-orang yang baik. Karena kita paham mencintai Allah karena hisab,” kata Ustadz Oemar.
Ustadz Oemar juga mengatakan tidak wajib kita dicintai orang lain, Karena sebaik apapun yang kita lakukan pasti ada yang membenci tanpa sebab. “Mustahil kita dicintai semua orang. Allah saja tidak dicintai oleh semua mahluk yang Dia ciptakan.”
Doa Rasulullah setiap pagi:
“Allaahumma inni as-aluka hubbaka, wa hubba man yuhibbuka, wal ‘amalalladzii yuqarribunii ilaa hubbik.”


