GETPOST.ID, Jakarta – PT Tempo Inti Media Tbk (TMPO), emiten yang memiliki majalah Tempo, kembali mencetak laba sebesar Rp 2, 57 miliar pada 2025, naik 17 persen dibandingkan kinerja 2024.
Kinerja keuangan positif ini dicapai sejak 2023, di tengah dinamika industri media dan tantangan yang makin kompleks.
Tantangan emiten media saat ini, antara lain tekanan terhadap pendapatan iklan, disrupsi digital, dan perubahan pola konsumsi informasi masyarakat yang datang beruntun.
Meski laba tumbuh, perseroan mengaku pendapatan usaha 2025 turun 17 persen secara tahunan menjadi Rp 210,9 miliar. Penurunan ini akibat hilangnya pendapatan non-recurring dari pekerjaan pencetakan surat suara Pemilihan Umum 2024.
Detailnya, pendapatan lini bisnis percetakan (Temprint) turun Rp 51,4 miliar; penyelenggaraan event
(Impresario) turun Rp 5,6 miliar; iklan turun Rp 3,32 miliar; dan animasi (Rombak) turun Rp 1,1
miliar.
Namun, ada juga pendapatan yang naik. Misalnya, lini bisnis konten kreatif (TV Tempo) membukukan kenaikan pendapatan sebesar Rp 8,8 miliar; sirkulasi digital naik Rp 4,14 miliar; pelatihan (Tempo Institute) naik Rp 3,8 miliar; perdagangan kertas (Temprint Inti Niaga) naik Rp 1,1 miliar; dan sirkulasi cetak naik Rp 500 juta.
Dari sisi biaya, beban operasi meningkat Rp 9 miliar, naik 10 persen. Beban administrasi dan umum juga naik Rp 2,6 miliar (6 persen) dan overhead naik Rp 0,3 miliar.
“Kami melakukan berbagai simulasi. Misalnya, jika pendapatan turun sekian, maka mesti ada yang dilakukan dari sisi belanja. Jangan sampai lebih besar pasak daripada tiang,” kata Direktur Utama Tempo Arif Zulkifli dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan PT Tempo Inti Media Tbk di Gedung Tempo, Palmerah, Jakarta Barat, Selasa (12/5).
Ia menjelaskan, pesatnya pertumbuhan pelanggan digital pada 2025 diiringi stabilnya jumlah pelanggan cetak sebagai keberhasilan utama Perseroan. Begitu pula dengan beberapa anak usaha Tempo di kelompok bisnis digital. Salah satunya, TV Tempo.
Kenaikan pendapatan dari pelanggan digital dan anak-anak usaha digital tersebut mampu menambal penurunan pendapatan dari iklan dan percetakan.
Ekspansi Perusahaan Film
Menariknya, inovasi Tempo menonjol pada 2025 adalah pendirian PT Layar Berkembang Senantiasa (Pal8 Pictures), perusahaan film di bawah naungan TV Tempo.
Pal8 Pictures akan menerjemahkan karya-karya jurnalistik Tempo ke film panjang. Proyek pertama Pal8 Pictures adalah film Laut Bercerita, yang diangkat dari novel berjudul sama karya novelis yang juga
mantan wartawan senior Tempo, Leila S. Chudori. Film ini sudah menyelesaikan tahap syuting dan kini memasuki tahap penyuntingan.
Komisaris Tempo Inti Media Bambang Harymurti menyambut baik pendirian Pal8 Pictures.
Menurutnya, Pal8 Pictures hadir untuk menerjemahkan kekayaan teks Tempo yang selama ini dikenal kuat dalam pembahasan politik dan budaya. Dengan demikian, Tempo tidak sekadar beradaptasi, tapi juga memperkaya cara bercerita tanpa kehilangan identitasnya sebagai media politik yang kritis dan mendalam.
“Tempo menunjukkan ketahanan media tidak semata ditentukan platform, tapi juga konsistensi menjaga muruah jurnalisme. Sejak majalah Tempo edisi perdana terbit pada 6 Maret 1971, Tempo telah melewati berbagai fase krisis dan perubahan zaman—dan kini kembali membuktikan kemampuannya beradaptasi. Transformasi digital yang ditempuh perseroan berada di jalur tepat. Tidak hanya bertahan, Tempo berhasil mengelola risiko krisis dengan mengembangkan sayap ke ranah multimedia,” jelasnya seraya menyatakan berbagai siniar, seperti Bocor Alus Politik, Jelasin Dong!, hingga Tukang Kupas Perkara, menjadi bukti bahwa jurnalisme berkualitas tetap relevan dan diminati di platform digital.
Namun, tantangan tentu ada, terutama dalam model bisnis digital yang didominasi raksasa teknologi,
seperti Google dan Facebook. Dalam konteks ini, Tempo didorong untuk tidak bergantung pada
iklan semata, tapi juga memperkuat basis pelanggan.
Bagi Bambang, keberhasilan sebuah media sejatinya tecermin dari sejauh mana karyanya dihargai pembaca. “Karena itu, pengembangan komunitas menjadi kunci. Tempo tidak cukup hanya diposisikan sebagai entitas bisnis, tapi juga harus tumbuh sebagai gerakan sosial yang hidup bersama para pembacanya.”
Di aspek tata kelola (governance), Tempo terus memperkuat tata kelola perusahaan. Pemisahan antara fungsi editorial dan komersial , sesuatu yang makin sulit ditemukan di banyak media karena tekanan bisnis, dipertegas. Tempo juga terus meningkatkan solusi bisnis kepada klien.
Sementara, di aspek sosial, Tempo sudah menjalankan berbagai inisiatif demi menguatan literasi publik, pendidikan jurnalistik untuk mahasiswa maupun aktivis masyarakat sipil, penguatan kapasitas media lokal, penajaman riset berbasis data melalui kerja sama dengan berbagai lembaga studi dan universitas, dan produksi berbagai informasi yang kredibel secara regular.
Terakhir, di aspek lingkungan hidup, Tempo sedang mencermati dampak lingkungan dari program transformasi digital, efisiensi operasional, dan pengurangan ketergantungan pada proses produksi berbasis cetak berupa penghematan penggunaan kertas dan tinta, serta pemanfaatan sampah sisa produksi sebagai bagian dari agenda keberlanjutan korporasi. Platform seperti INSTAR (Indeks Integritas Bisnis Lestari), hasil kerja sama Tempo Data Science bersama Transparency International Indonesia (TII) dan Institute for Strategic Initiatives (ISI) dirancang untuk mendorong praktik bisnis yang transparan, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.
Strategi Tempo ke Depan
Menurut Arif , transformasi digital juga diposisikan sebagai bagian penting dari strategi keberlanjutan Tempo.
Dalam 2-3 tahun terakhir ini, industri media mengalami perubahan besar: pola konsumsi audiens berubah, pasar iklan terdisrupsi, dan distribusi konten makin bergantung pada platform digital. Karena itu, transformasi digital buat Tempo bukan sekadar modernisasi teknologi, melainkan strategi untuk memastikan Tempo tetap relevan, sehat secara finansial, dan mampu mempertahankan jurnalisme independen dalam jangka panjang.
Transformasi ini mencakup penguatan pendapatan berbasis pelanggan yang menjadi pilar kuatnya hubungan Tempo dengan audiens. Kemudian pengembangan berbagai produk digital termasuk
berbasis akal imitasi atau artifical intelligence (AI), pemanfaatan data dan teknologi, penguatan
layanan riset dan data, pengembangan pendidikan serta pelatihan melalui Tempo Institute, dan dukungan terhadap media lokal melalui infrastruktur digital seperti Teras.id.
“Semua ini diarahkan agar Tempo tidak hanya bertahan sebagai perusahaan media, tapi juga tumbuh
sebagai ekosistem informasi yang kredibel, independen, dan berkelanjutan,” pungkas Arif.



