Investasi Sektor Properti Komersial Tumbuh Pesat di Asia Pasifik

Foto: ist.

GETPOST.ID, Jakarta – Investasi properti komersial atau commercial real estate (CRE) di Asia Pasifik meningkat 23% secara tahunan pada 2024 menjadi US$ 131,3 miliar, menurut data dan analisis perusahaan konsultan properti global JLL.

Lonjakan investasi lintas negara ini didukung  minat yang kuat terhadap aset perkantoran dan logistik dari investor asing di pasar-pasar utama, seperti Australia, Jepang, dan Singapura.

Read More

Jepang terus menjadi pasar paling aktif di kawasan ini, dengan volume perdagangan mencapai US$ 10,7 miliar pada kuartal IV 2024, meningkat 145% secara tahunan. Meskipun suku bunga cenderung meningkat, investor mengadopsi strategi nilai tambah untuk mengurangi kenaikan biaya utang sehingga lebih mendorong aktivitas pasar.

“Pertumbuhan tahunan selama lima kuartal berturut-turut untuk properti komersial di Asia Pasifik merupakan bukti dari ketahanan jangka panjang kawasan ini,” kata Stuart Crow, CEOAsia Pacific Capital Markets JLL, dalam siaran pers, kemarin.

Menurutnya, meski terdapat perbedaan di setiap pasar, investor terus menemukan peluang seiring dengan stabilnya valuasi dan pelonggaran persyaratan pinjaman. Kami memperkirakan 2025 akan menjadi tahun kuat untuk masuk ke pasar, yang mana pelaku pasar yang bergerak lebih awal dapat memperoleh keuntungan dari situasi yang kurang kompetitif, terutama di sektor-sektor utama seperti perkantoran dan logistik.

Jakarta, June 26, 2017: The new Semanggi overpass circling around the old one is so beautiful and photogenic. Its unique design change the look of the city and is in fact becoming a new icon and landmark of Jakarta city.

Indonesia

Di Indonesia, realisasi investasi di sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran masuk dalam 5 besar subsektor dengan kontribusi terbesar. Subsektor ini menyumbang Rp 122,9 triliun (7,2%) dari total realisasi investasi nasional 2024 yang mencapai Rp 1.714,2 triliun.

“Pertumbuhan investasi berkelanjutan di sektor properti Indonesia menunjukkan sektor ini tetap menarik, dan mencerminkan persepsi baik di kalangan investor asing maupun domestik mengenai iklim investasi di Indonesia. Pada 2025, kami optimistis sektor ini terus berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur serta ruang yang mendukung ekspansi bisnis dan gaya hidup,” ujar Farazia Basarah, Country Head JLL Indonesia.

Sektor perkantoran di Asia Pasifik terus mengalami rebound kuat. Didorong permintaan stabil dari para penyewa. Hal ini membantu mempertahankan momentum pertumbuhan di masing-masing pasar.

Volume investasi perkantoran mencapai US$ 48,8 miliar pada 2024, meningkat 12% secara tahunan. Pada kuartal IV tahun lalu, Korea Selatan memimpin di kawasan ini untuk volume investasi perkantoran.

Di sektor ritel, volume investasi meningkat 28% secara tahunan, didominasi modal swasta di Australia, sementara pasar ritel utama di Singapura terus mengalami pertumbuhan sewa yang stabil. Di Korea Selatan, perusahaan menjadi pemimpin investasi, dengan fokus pada peluang-peluang peningkatan nilai tambah.

“Terlepas dari ketidakpastian akibat kebijakan fiskal pemerintah AS dan keputusan Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga bulan ini, Asia Pasifik tetap menjadi tujuan menarik bagi investasi global,” kata Pamela Ambler, Head of Investor Intelligence Asia Pasifik, JLL.

Meskipun pasar utang dihadapkan pada ekspektasi suku bunga restriktif, valuasi properti di kawasan ini sedang mengalami penyesuaian, sehingga menciptakan peluang menarik bagi para investor strategis. Dengan bank-bank sentral yang memulai siklus penurunan suku bunga dan transparansi semakin membaik di kawasan ini, Asia Pasifik menawarkan peluang yang kuat untuk investasi jangka panjang dan pertumbuhan yang berkelanjutan, pungkas Ambler.

Related posts