GETPOST.ID, Jakarta – Karyawan ini sudah mengelilingi hampir separuh dunia. Sejak 2005, Ricky Suhendar sudah melancong ke 93 negara di dunia. Pakistan dan Iran adalah dua negara yang baru dikunjunginya pada awal Maret 2024.
Dari 195 jumlah negara di seluruh dunia versi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Ricky menargetkan dapat liburan ke 100 negara di dunia!
Menariknya, Ricky Suhendar yang akrab disapa Suhe melakoninya sendiri alias solo traveller.
Suhe mengaku memanfaatkan waktu libur panjang seperti libur hari raya keagamaan, plus cuti karyawan tentu saja, untuk melakukan solo travelling ke luar negeri.
Saking addicted-nya, Suhe mengaku pernah 40 hari liburan ke luar negeri. Waktu selama itu dihabiskannya untuk melancong ke tujuh negara di benua Eropa dan Amerika.
“Waktu itu 2017, gue berada di fase in between job, sehingga ada waktu kosong lama sebelum bekerja di kantor baru,” ujar Suhe saat podcast Ngopi Sore yang disiarkan di kanal Youtube Tempodotco, Sabtu (30/3).
Menurutnya, melancong sendiri dilakoni dengan berbagai Alasan. Tidak mudah melancong bersama teman-teman atau kelompok. Sebab waktunya belum tentu cocok semua, pilihan negara tujuan yang berbeda, dan lain-lain.
“Ujung-ujungnya gagal, waktu kebuang percuma. Akhirnya putuskan solo travelling. Solo traveller itu konsepnya ngak harus sendiri. Kalau cocok jalan bareng, kalau ngak, gue tetap jalan sendiri,” kata Suhe yang sedang sekolah masak di Paris, Prancis.
Thailand Negara ke-1, Iran ke-93
Bangkok (Thailand) adalah negara pertama yang dikunjungi Suhe sebagai solo traveller. “Maksudnya liburan ya, bukan bekerja, dan pakai uang sendiri untuk berlibur,” tegas Suhe.
Negara tujuan Suhe memang unik. Bukan negara tujuan turis Indonesia kebanyakan. Karyawan yang jago ilmu marketing ini banyak melancong ke negara-negara yang mungkin emoh dikunjungi turis awam. Misalnya Sri Lanka, Bangladesh, Nepal, dan Bhutan di Asia. Kemudian Ethiopia, Tanzania, dan Kenya di Afrika, serta Kuba, Puerto-Riko, Trinidad & Tobago di Karibia; Brasil, Kolombia, dan Argentina di Amerika Latin.
Suhe juga pernah menjejakkan kakinya di Uzbezkistan, Kazakhstan, Tajikistan, dan Kyrgistan di Asia Tengah, serta Montenegro, Bulgaria, dan Kosovo di Eropa Timur.
Jangan tanya liburan ke Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, Inggris, Spanyol, atau Turki. Semua itu sudah disambanginya.
“Prinsipnya, dunia itu indah dan banyak tempat bagus. Rugi tidak jalan-jalan. Jangan diam di satu negara,” ucap Suhe yang sangat berkesan saat liburan ke Havana, Kuba, pada 2015 silam.
Menurut pria yang pernah menjadi wartawan ini, luburan ke Havana Kuba bagai hidup di dunia lain. Mobil-mobil jadul dari era 1950-an, rumah-rumah gaya lama, banyak tembok usang dengan atmosfer unitk.
“Gue seperti hidup di era fifties, sebelum gue lahir. Internet juga mayoritas tidak ada di seluruh negeri,” ujarnya sambil tertawa.
Nonton Konser Musik
Alasan lain Suhe melancong jauh ke luar negeri adalah menonton konser musik. Apalagi banyak penyanyi dunia tidak bikin konser di Asia atau Indonesia.
“Gue pernah nonton konser Beyonce dua kali, di Dublin-Irlandia dan Perth-Australia. Nonton Madonna di Skotlandia, Bruno Mars di Italia, Rihanna di Oslo-Norwegia, Adele di Australia, Lady Gaga di Australia, dan Julio Iglesias di Kolombia,” ungkapnya.
Namun, lanjut Suhe, satu hal yang disukainya saat ini sebagai obyek liburan adalah mendapat social experience di negara tujuan. Seperti bertemu orang-orang lokal, melihat langsung aktivitas mereka, gaya hidupnya, dan berbincang-bicang dengan mereka.
“Dulu mungkin tujuan liburan gue belanja, kini social experience,” ucapnya sedikit berbagi makna travelling.
Diracun di Maroko
Namun solo travelling Suhe ke luar negeri tidak semuanya indah. Ada cerita minor yang dialaminya di beberapa negara. Sendirian, jauh dari keluarga dan kerabat.
Misalnya, saat travelling ke Amerika Utara, ada gempa bumi hebat menguncang Meksiko. Suhe terpaksa tidur di luar hotel untuk menghindari gempa susulan yang datang tiba-tiba untuk merenggut nyawanya.
Dia juga pernah diracun yang ditaburkan dalam minuman teh, saat diajak ke sebuah toko karpet pada sebuah pasar di Maroko.
“Untungnya, saya minum tehnya sedikit sekali, karena tidak suka minum teh manis panas. Sedih kalau ingat kejadiannya, tapi cerita duka terjadi karena di luar kendali ya,” jelasnya.
Tapi Suhe tetap mengatakan banyak sukanya sebagai solo traveller ketimbang dukanya. Apalagi berkat kemajuan teknolgi digital, saat ini banyak aplikasi bikin mudah solo traveller zaman now.
Misalnya kendala bahasa, dapat memanfaatkan aplikasi Google Talk. Untuk penginapan, kini banyak pilihan, selain hotel, ada hostel, aplikasi Airbnb, dan couch surfing.
Saya belum pernah pakai couch surfing, tapi manfaatkan network-nya untuk berinteraksi dengan orang-orang lokal di negara tujuan, ungkap Suhe membocorkan rahasianya.
“Keindahan solo travelling adalah sendiri, tapi tidak sendirian dan sendiri tapi tidak kesepian,” pungkas Suhe yang berniat melancong ke negara baru: Korea Utara, Lebanon, Irak, Kuwait, dan Palestina.
Tips dan Manfaat Solo Traveller
Berikut ini tips solo traveller ala Suhe:
1. Tentukan waktu liburan dan persiapkan jauh-jauh hari. Sebab sebagai pemegang paspor Indonesia butuh waktu lebih lama untuk mengurus visa seperti ke Amerika Serikat, Argentina, dan Lebanon.
2. Bila waktu liburan Anda hanya 4-5 hari, maka lakukan solo travelling jarak dekat atau menengah, seperti Jepang, Korea, atau Australia. Untuk liburan ke Eropa atau Afrika, waktunya mesti lebih panjang.
3. Pilih menginap di lokasi atau area aman seperti di tengah kota atau dekat ke mana-mana. Soal hotel, tergantung bujet Anda.
4. Tapi lebih baik menginap di hostel, karena value-nya lebih bagus daripada hotel. Anda bisa berinteraksi dengan solo traveller atau turis lain.
5. Solo traveller banyak manfaatnya, karena melatih daya ingat. Anda hanya mengandalkan diri sendiri seperti mesti mengingat rute ke hotel atau tempat tujuan, dan sebagainya.
6. Melatih tanggung jawab terhadap diri sendiri. Sebab semua dikelola sendiri; waktu, biaya, kesehatan, keselamatan diri, dan sebagainya. Apalagi ada kebiasaan orang Indonesia, untuk liburan semua diatur orang tua dan pakai tour guide. Anda bakal mendapat pelajaran hidup jauh lebih bermakna dengan solo traveller. Setuju travellers?!



