GETPOST.ID, Tangerang – Suzuki Indonesia punya pandangan sendiri soal kenaikan harga mobil baru di Indonesia lebih tinggi dibandingkan kenaikan upah/gaji masyarakatnya. Akibat ketimpangan ini, daya beli konsumen cenderung melemah, sehingga pasar otomotif nasional cenderung turun belakangan ini.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), per semester I 2025 pasar otomotif nasional turun sekeitar 9 persen menjadi 390 ribu unit secara tahunan.
Dalam diskusi Indonesia Center for Mobility Studies (ICMS) di GIIAS 2025, Sekretaris Umum Gaikindo Kukuh Kumara mengatakan, kondisi industri otomotif nasional stagnan sejak 13 tahun terakhir dan mengalami penurunan penjualan dalam 3 tahun terakhir.
“Hal ini memicu terjadinya persaingan harga yang makin sengit. Keadaan ini tidak boleh dibiarkan terus berlangsung,” ujarnya di ICE-BSD Tangerang, Kamis (31/7).
Shodiq Wicaksono, Managing Director PT Suzuki Indomobil Motor, menjelaskan Suzuki mempunyai dua pabrik di Indonesia, yakni pabrik Tambun dan Cikarang. Kedua pabrik itu memproduksi model New Carry, Ertiga, XL-7, APV, dan yang terbaru Fronx.
Fronx merupakan compact SUV bergaya coupe yang resmi dipasarkan di Indonesia pada akhir Mei 2025. Saat ini jumlah pemesanannya lebih dari 4.00o unit.
“Bukannya pabrikan otomotif (Suzuki) mau harga mobil baru naik 7 persen. Tapi karena biaya produksi mobil setiap tahun lebih mahal akibat beberapa variabel terutama kurs rupiah yang cenderung melemah terhadap mata uang asing seperti dolar Amerika Serikat atau yen (Jepang),” ujar Shodiq saat jadi panelis dalam acara diskusi ICMS.
Menurutnya, akibat variabel kurs rupiah melemah, pabrikan otomotif mesti mengeluarkan biaya, seperti belanja komponen, lebih mahal, karena dibeli dalam denominasi dolar atau yen. Belum lagi biaya beamasuknya, sehingga dampaknya lebih tinggi dari inflasi. Akhirnya, biaya atau harga pokok produksi setiap unit mobil menjadi lebih mahal. Alhasil, harga mobil di tangan konsumen pun naik sekitar 7 persen setiap tahun.
Saat ini pabrik Suzuki di Tambun dan Cikarang masing-masing punya kapasitas produksi 92 ribu unit mobil per tahun dan 107 ribu unit. Total karyawannya sekitar 4.700 orang, dengan jumlah mobil yang sudah diproduksi hingga saat ini: 3,2 juta unit.
Pasar Pikap Ringan Anjlok
Selain itu, Shodiq juga mengaku khawatir pelemahan pasar otomotif di segmen mobil pikap ringan. Di segmen ini, Suzuki mengandalkan New Carry.
“Per Juni tahun ini, pasar mobil pikap ringan turunnya lebih dalam dibandingkan pasar mobil nasional yang 9 persen, yakni 36 persen! Kami tentu khawatir ada apa ini,” ujarnya.
Kekhawatiran ini, lanjut dia, pantas sebab konsumen Carry yang mayoritas UMKM, kebanyakan membeli dengan skema kredit. Alhasil, segmen ini sangat sensitif terhadap kenaikan harga jual mobil baru.
“Mungkin karena kebijakan uang muka (DP) naik sehingga nilai cicilannya lebih mahal. Inilah yang mungkin menyebabkan pasar mobil pikap ringan turun per semester I,” jelasnya.



