Diaspora Anak Betawi: Potret Inspirasi dari Jepang, Qatar, hingga Finlandia

FGD Permata MHT dengan topik Diaspora Betawi di Jakarta.

GETPOST.ID, Jakarta – Siapa bilang anak Betawi jago kandang? Faktanya, banyak anak Betawi menjadi diaspora, bahkan punya prestasi nasional dan internasional, serta membanggakan bangsa Indnesia.

Inilah mengemuka dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) ormas Permata MHT dengan topik “Diaspora Anak Betawi” di Jakarta pada Jumat (24/10).

Read More

FGD ini menampilkan para diaspora Betawi; Dr Eng Ismail, ahli nuklir yang bekerja di Jepang; Dian Nurhayati, MI.Kom, profesional komunikasi yang berkarir di Qatar; dan Shandy F Aditya, BIB, MPBS, putra Prof Sylviana Murni yang kini bermukim di Finlandia.

Sebagai moderator adalah H Fikrie Isnaeni S.Kom, putra salah satu pendiri Permata MHT, alm H Djabir Chaidir Fadhil.

Ketua Umum Permata MHT Dr KH Marullah Matali saat membuka FGD mengatakan anak Betawi bukan lagi jago kandang, anak Betawi sudah mendunia.

Dalam sambutan secara daring, Marullah mengajak seluruh masyarakat Betawi berbangga dan percaya diri menghadapi era global.

“Permata MHT akan terus mengajak seluruh kaum Betawi, dan siapa saja yang peduli dengan Jakarta, bergabung di bawah satu semangat persatuan,” ujarnya seraya menambahkan gerakan Permata MHT berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an dan semangat ukhuwah Islamiyah.

Menurutnya, peran masyarakat Betawi kini harus lebih terbuka terhadap perubahan dan globalisasi.
“Anak Betawi jangan jadi katak dalam tempurung. Saatnya menjelajah, belajar, dan berpengaruh di mana pun berada.”

Terakhir, dia mengajak Jakarta hari ini menuju kota global. Tugas kita bersama menjadikan Jakarta sejajar dengan kota-kota besar dunia, tanpa kehilangan jati diri Betawi.

Sambutan Ketua Umum Permata MHT Marullah Matali di Jakarta.
Dr Eng Ismail, Dari Rawa Belong ke Jepang

Kisah inspiratif datang dari Dr Eng Ismail. Seorang pakar nuklir asal Rawa Belong yang kini bekerja di Jepang.

“Teknologi tinggi seperti nuklir memang berisiko besar, tapi di situlah tantangannya,” ujarnya.

Lulusan ITB ini menilai Indonesia memiliki sumber daya manusia unggul di bidang energi nuklir, tapi belum sepenuhnya didukung kebijakan memadai. “Kalau energi kita stabil, bersih, dan mandiri, Indonesia akan lebih berdaulat.”

Ismail berpesan kepada generasi muda Betawi agar berani keluar dari zona nyaman.

“Tinggalkan stigma anak Betawi sebagai jago kandang, mari bersaing dengan kemampuan dan kemauan diri. Saya, anak pedagang bunga dari Rawa Belong, tapi Alhamdulillah jadi insinyur. Kuncinya belajar dan kuatkan adab di mana pun kita tinggal,” tutupnya.

Shandy F Aditya, Berani Tampil dan Berkontribusi

Dari Finlandia, Shandy F Aditya menilai masyarakat Betawi memiliki potensi besar untuk bersaing di tingkat global. Etnis Betawi termasuk kelompok besar di Indonesia dengan persentase sarjana yang cukup tinggi. Ini menunjukkan fondasi kuat untuk terus maju.

Maka itu, Shandy mendorong generasi muda Betawi agar memanfaatkan peluang pendidikan, termasuk beasiswa luar negeri.

“Kalau kita mampu bertahan di Jakarta, berarti dapat hidup di mana saja. Tinggal kemauan untuk terus belajar,” ujarnya seraya mengingatkan pentingnya menjaga identitas budaya di tengah pergaulan global.

“Diaspora itu bertugas memperkuat jejaring dan membawa nama baik budaya Betawi di kancah dunia. Jangan pernah malu bilang gue anak Betawi, karena kita sekeren itu,” ucapnya bersemangat.

Dian Nurhayati, Belajar dan Beradaptasi di Negeri Orang

Sementara, Dian Nurhayati dari Qatar menceritakan pengalaman di lingkungan internasional. Dia mengaku awal tinggal di luar negeri memang banyak penyesuaian, tapi dari situ justru dirinya belajar banyak hal. Maka itu, kemampuan berbahasa dan keterbukaan terhadap budaya menjadi kunci sukses.

“Kita harus berani mengeksplorasi diri dan terus belajar di mana pun berada,” ujarnya.

Dian mengaku aktif memperkenalkan budaya Betawi di Qatar melalui kegiatan komunitas. Kami ingin menunjukkan orang Betawi punya karakter kuat, terbuka, dan mampu beradaptasi di mana saja.

Dian menutup dengan pesan bermakna: “Jangan pernah merasa paling pintar supaya kita mau terus belajar, dan jangan merasa paling kaya supaya kita mau terus bekerja.”

Kegiatan FGD ini turut dihadiri perwakilan Korwil Permata MHT dari lima wilayah, perwakilan anak Betawi di Jabodetabek dan ajaran pengurus DPP Permata MHT, antara lain H Supli Ali (Sekjen), H Hamzah (Bendahara), H Naman Setiawan, H Yusron Sjarief, H Tanto Tabrani, Syahril, serta seniman dan tokoh Betawi seperti H Sarnadi Adam dan Hj Tonah.

Related posts