GETPOST.ID, Semarang- ‘’Arkadewi’’, sosok perempuan urban, cantik, cerdas, mandiri dan berdaya. Sosok Arkadewi ini kemudian diterjemahkan ke dunia nyata melalui desain busana bergaya romantic feminine dengan sentuhan classic elegant, berupa kebaya, rok mini, boyfriend ripped pants, skort berdetail envelope, dropped shoulder blazer dan dress unik cheerfull. Adalah Widya Andhika desainer Indonesian Fashion Chamber Semarang Chapter yang meng-upsycle beberapa denim jacket dan memberikan napas baru dengan tambahan detail patchwork.
“Arkadewi ingin memberikan pesan kepada kaum perempuan untuk selalu tampil percaya diri dan berkarakter sehingga layak menjadi role model dalam berbusana dan bergaya. Selain itu, kebaya dan batik tidak membosankan dan bias dipadu padan dengan denim,” kata Dhika sapaan akrabnya.
Baca:
– Semarang Fashion Trend 2022 Optimalkan Kekuatan Lokal
Sisi cantik dan keanggunan ‘’Arkadewi’’ ditampilkan dalam bentuk detail busana berupa patchwork, anyaman dan bordiran. Sementara sisi maskulin dihadirkan melalui look busana yang nyaman, enak dipakai dan praktis. Pemilihan warna-warna colorfull dengan aksen benang merah pada kain denim memberikan kesan berani dan tegas. Keunikan dari busana karya Widya adalah menginterpretasikan bentuk busana lama menjadi tampilan baru. Kebaya dengan detail kutubaru yang terbuat dari anyaman kain perca, dipadukan rok mini two tone.
Melalui rancangan kali ini, Widya ingin memberikan pesan kepada kaum perempuan untuk selalu tampil percaya diri dan berkarakter sehingga layak menjadi role model dalam berbusana dan bergaya, dan bahwa kebaya dan batik tidak membosankan dan bias dipadu padan dengan denim.
Widya Andhika yang juga peduli pada isu lingkungan hidup terutama persoalan limbah industri busana, juga mengakomodir napas sustainable fashion ke dalam rancangannya. Pilihan utama berupa denim dan soft denim, di mana beberapa item merupakan hasil dari upsycle yang ditemukan saat thrifting. Ada juga kain – kain koleksi arcived yang lama tersimpan hidup kembali dalam koleksi ini. Koleksi batik tulis berupa perca yang sudah disimpan selama bertahun tahun,juga turut memperkaya material pembuat busana ‘’Arkadewi’’.
Dan, rangkaian busana ‘’Arkadewi’’ berdasar Fashion Trend Forecasting 2023/2024 yang mengangkat tema besar Co-Exist, masuk ke dalam subtema ‘’Survivors’’. Penekanan utamanya pada poin optimistic, chic thrift, retro dan logic. The Survivors hadir sebagai respon dari situasi yang diakibatkan pandemi Covid 19 yang membawa banyak perubahan sehingga manusia berupaya keras untuk terus bertahan. Namun, di tengah keterbatasan dan kekurangan, mereka tetap optimis.
Semangat optimisme Survivors inilah yang diambil Widya dengan melahirkan kreativitas dalam rancangan busana agar roda kehidupan tetap berputar. Berhemat menjadi pola pikir baru. Simpanan barang-barang lama digunakan kembali bahkan direka-reka menjadi bentuk dan tampilan baru. Reuse, renewal dan upsycle.
“Ada juga kain-kain koleksi lama tersimpan hidup kembali dalam koleksi ini. Koleksi batik tulis berupa perca yang sudah disimpan selama bertahun tahun juga turut memperkaya material pembuat busana Arkadewi,” katanya.



