Cara Jitu Lampung Selatan Turunkan Stunting, Konsumsi Ikan

GETPOST.ID, Lampung Selatan– Konsumsi ikan orang Indonesia masih rendah dibanding negara tetangga. Padahal, ikan mengandung protein tinggi dan asam lemak omega 3 yang baik untuk kecerdasan otak anak dan menjaga keseimbangan kolesterol orang dewasa.

Menurut Dwi Jatmiko Plt Kepala Dinas Perikanan, Kabupaten Lampung Selatan, target konsumsi ikan Indonesia adalah 60 kg/kapita/tahun. Saat ini rata-rata konsumsi ikan orang Indonesia baru berada di angka 40 kg/kapita/tahun. Jauh di bawah Malaysia yang 80 kg/kapita/tahun atau Jepang yang sudah 10 kg/kapita/tahun,

Dwi optimistis target konsumsi ikan masyarakat, khususnya di Lampung Selatan bisa mencapai 60 kg/kapita/tahun. Apalagi Lampung Selatan memiliki laut luas dengan garis pantai yang sangat panjang, yaitu 247 km. “Hasil ikan di Lampung Selatan pun cukup bagus, mencapai 29 ribu ton per tahun,” ungkap Dwi yang menyebut ikan simba atau kuek adalah ikan paling favorit digemari masyarakat Lampung.

Hal ini juga seiring sejalan dengan target Lampung Selatan yang menurunkan angka kasus stunting mencapai 0% pada 2024. Pada 2013, angka stunting di Lampung Selatan sebesar 43%, pada 2018 sebesar 29%, dan 2019 turun jadi 5,3%.

Read More

“Dan pada 2021, angka stunting di Lampung Selatan turun lagi menjadi 3,6%. Angka ini sudah jauh lebih baik dari angka stunting nasional yang saat ini masih di angka 14%. Dan salah satu faktor penyebab menurunnya angka stunting ini adalah berkat mengonsumsi ikan,” ungkap Dwi Jatmiko dalam talkshow bertema Potensi Ikan Sebagai Cuan dan Solusi Atasi Stunting yang digelar Asah Kebaikan di instagram @asahkebaikan, Sabtu malam (13/11/2021).

Berbagai program digeber untuk mencapai target tersebut. “Untuk keluarga-keluarga yang masih ada anak stunting, kami memberi pelatihan budidaya ikan lele dalam ember atau budidamber yang dipadu dengan tanam kangkung. Jadi jangan jijik makan lele karena sekarang dibudidayakan di ember atau kolam terpal,” ujar Dwi yang gemar main musik.

Berbagai program untuk meningkatkan ekonomi rakyat juga digeber. “Selain ikan lele, mas, dan mujair, budidaya ikan air tawar untuk skala rumah tangga kini juga merambah udang air tawar. Ini bisa dilakukan di lahan seluas 200-300 m3 dan panen 3-4 kali per tahun dengan sekali panen mencapai 1 ton udang. Dengan modal per Rp50 ribu/kg udang, peternak udang bisa menjual udangnya Rp70 ribu/kg. Di sejumah kecamatan, seperti di Ketapang dan Sragi, budidaya udang skala rumah tangga ini sudah berhasil meningkatkan ekonomi rakyat,” papar Dwi.

Namun bila dibandingkan dengan nasional, kata Dwi Jatmiko, konsumsi ikan di Lampung Selatan saat ini lebih baik. “Konsumsi ikan di Lampung Selatan mencapai 43 kg/kapita/tahun. Kita akan terus tingkatkan konsumsinya hingga mencapai 60 kg/kapita/tahun dengan melakukan berbagai program edukasi gemar makan ikan,” kata Dwi.

Pria yang menamatkan S1 di jurusan Perikanan, Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas Diponegoro serta S2 Manajemen Sumberdaya Pantai di Univeristas Diponegoro ini mengungkap, dengan target konsumsi ikan 60 kg/kapita/tahun, artinya, setiap orang minimal mengonsumsi ikan sebanyak 5 kg/bulan. “Jadi satu orang minimal harus konsumsi ikan sebanyak 5 kg/bulan. Itu minimal ya. Bahkan untuk anak-anak dan ibu hamil seharusnya konsumsi ikannya di atas 5 kg/bulan,” saran Dwi, kelahiran Kalianda, Lampung Selatan pada tahun 1974.

Dwi menegaskan, ikan sangat baik untuk kesehatan. “Protein ikan itu sangat tinggi, makanya ikan mudah busuk. Ikan juga mengandung asam lemak omega 3 dan 6 yang baik untuk kecerdasan otak anak dan dapat menurunkan kolesterol. Jadi, mau makan ikan sebanyak apapun, aman-aman saja,” ujar Dwi yang di rumahnya membuka kafe dengan menu andalan Pindang Ikan Simba.

Produk turunan ikan juga terus diperbanyak demi meningkatkan konsmsi ikan dan ekonomi rakyat. “Berbagai pelatihan berbasis teknologi pengolahan ikan terus kami lakukan. Ikan dibuat menjaid berbagai macam makanan, mulai abon ikan atau serundeng ikan, peletekan atau pilus ikan, kerupuk ikan, bahkan tulang ikan pun dibikin kerupuk. Dan yang terkenal di Kalianda, Lampung Selatan adalah otak-otak ikannya yang sangat enak,” tandas Dwi Jatmiko.

Alia

Related posts