Berkunjung ke Sumatera Barat, Hal Ini yang Membuat Doni Monardo Galau

Doni Monardo

GETPOST.ID, Padang– Letjen TNI Purn Dr (HC) Doni Monardo, risau ketika berkunjung ke Sumatera Barat. Pria berdarah Minang ini melihat banyaknya kerusakan alam di bumi Sumatera Barat, terutama akibat penambangan.

Kerisauan Doni sudah lama dirasakan. Dalam berbagai kunjungan ke Sumatera Barat (terkait kebencanaan), ia melihat langsung bagaimana sungai-sungai tidak lagi jernih airnya. Longsor yang mendera serta banjir bandang yang memilukan. Pencemar sungai adalah praktik penambangan liar. Sekalipun banyak penambang liar ditindak aparat keamanan, faktanya, keberadaan mereka masih marak di lapangan.

Read More

Kerisauan Doni ditumpahkan saat ia memberi kuliah umum di hadapan sekitar 400 an mahasiswa ISI Padang Panjang. Acara ini berlangsung 2 jam pada hari Jumat, 21 Oktober 2022 di Gedung Pertunjukan Huriah Adam.

Doni mengajak masyarakat Minang secara umum, serta generasi muda pada khususnya untuk sama-sama menjaga alam Minang agar pulih. Alam yang lestari bukan hanya untuk kita, tetapi warisan bagi generasi yang akan datang.

Baca Juga:
Kunjungan ke Ternate, Doni Monardo: BUMN Tambang Harus Transparan Kelola CSR
Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Doni Monardo Tinjau Botanical Garden di Tanjung Enim Sumsel

Dalam kesempatan itu Doni juga menyampaikan kerisauannya terhadap abrasi yang terjadi di Pantai Padang. “Waktu kecil saya sering lari-lari, main bola di pinggir pantai. Saya ingat, jarak bibir pantai dengan jalanan relatif jauh, tapi kondisi sekarang berbeda sekali. Jarak bibir pantai ke jalan semakin dekat karena abrasi,” kata Doni Monardo dalam siaran pers baru-baru ini.

Doni mengajak masyarakat Minang tanpa kecuali untuk melakukan penyelamatan Pantai Padang dengan opsi mitigasi berbasis vegetasi. Antara lain dengan pembentukan Tombolo.

Yang pertama dengan metode submerged offshore breakwater (Pemecah gelombang lepas pantai terendam) dan Detached offshore breakwater (Pemecah gelombang lepas pantai terpisah). Kelak ombak yang membawa pasir, lambat laun menciptakan gumuk pasir, yang kemudian bisa menjadi tambahan “daratan” baru.

Baca:
– Berkunjung ke Sumatera Utara, Doni Monardo dapat Ilmu Baru Soal Menanam Mangrove
– Hari Bumi, Doni Monardo Menanam Vetiver di Universitas Indonesia

Para mahasiswa ISI Padang Panjang diharap mampu menjadi bagian dari ecocracy (kedaulatan lingkungan hidup) yang akan mengemban tugas dalam pembenahan lingkungan sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar.

Selain kental dengan citra “seniman”, Sumatera Barat juga dikenal banyak melahirkan tokoh-tokoh politik dan ekonomi. Stigma orang Minang pandai berdagang, adalah stigma yang melekat secara turun-temurun.

Bagi Doni Monardo, kemampuan berdagang orang Minang adalah sesuatu yang harus dikembangkan agar makin banyak melahirkan para entrepreneur. Semakin banyak pengusaha, semakin makmur sebuah daerah, atau bangsa.

Profesi sebagai pedagang sebagai ciri orang Minang, jauh lebih terhormat, kata Doni dibanding profesi sebagai “penambang”. Apalagi penambang liar, yang bukan saja merusak alam, tetapi juga profesi yang merugikan. Bukan saja merugikan secara ekonomi juga secara sosial. “Orang Minang itu pedagang, bukan penambang,” tegas Doni.

Related posts