Menuju Net Zero, Indonesia Butuh Asupan Investasi USD

ilustrasi bisnis

GETPOST.ID, Jakarta- Sebuah studi baru yang dilakukan oleh Standard Chartered mengungkapkan bahwa pengeluaran rumah tangga bisa turun sebesar USD 1,9 triliun jika Indonesia harus mendanai sendiri pencapaiannya menuju net zero.

Menurut studi bernama Just in Time, yang melihat kesenjangan pembiayaan transisi untuk pasar negara berkembang dan bagaimana mempekecilnya, Indonesia akan membutuhkan USD2,7 triliun untuk melakukan transisi menuju net zero dan akan membutuhkan bantuan dari pasar negara maju untuk mencapai target tersebut.

Studi ini juga menemukan bahwa:

  • Jika pembiayaan yang dibutuhkan Indonesia untuk beralih ke net zero disediakan oleh negara maju, pengeluaran rumah tangga Indonesia dapat meningkat sebesar USD2,2 triliun dibandingkan apabila melakukan pembiayaan sendiri.
  • Jika negara berkembang mendanai transisi mereka sendiri, tanpa bantuan dari negara-negara maju, maka konsumsi rumah tangga di negara-negara tersebut bisa turun sebesar rata-rata 5 persen setiap tahunnya.

Kesenjangan pembiayaan untuk transisi

Apabila Indonesia membutuhkan investasi sebesar USD2,7 triliun untuk transisi mencapai net zero,Just in Time mengungkapkan bahwa negara berkembang secara keseluruhan memerlukan investasi tambahan sebesar USD94,8 triliun – atau lebih tinggi dari PDB global tahunan – untuk transisi mencapai net zero secara tepat waktu. Estimasi pembiayaan tersebut di luar modal yang telah dialokasikan oleh pemerintah masing-masing negara berkembang tersebut sesuai kebijakan iklim mereka saat ini.

Read More

Investor swasta dapat menyumbang USD83 triliun dari USD94,8 triliun yang dibutuhkan – dan semakin menggarisbawahi pentingnya agar para lembaga keuangan memenuhi komitmen keuangan hijau dan transisi mereka. Namun, seperti yang ditunjukkan dalam laporan kami sebelumnya, yang berjudul The USD50 Trillion Question, mendorong investasi di negara berkembang merupakan tugas yang sulit. 300 perusahaan investasi terbesar di dunia dengan total aset yang dikelola lebih dari USD50 triliun, memiliki investasi yang kecil di Timur Tengah (2%), Afrika (3%) dan Amerika Selatan (5%).

Just in Time berpendapat bahwa untuk melakukan transisi dengan cara yang seadil mungkin, diperlukan kolaborasi yang lebih besar di dalam strategi, kebijakan, dan pembiayaan. Selain itu, bank harus memenuhi janji yang dibuat pada ajang UN Climate Change Conference (COP26) agar pengeluaran rumah tangga bisa tidak terkena dampak biaya transisi negara mencapai net zero.

Menutup kesenjangan pembiayaan transisi Just in Time melihat dua jalur untuk mempekecil kesenjangan pembiayaan transisi negara berkembang, yakni pembiayaan mandiri oleh pasar negara berkembang dan pembiayaan oleh negara maju, di mana modal disediakan melalui hibah dan pinjaman.

Pembiayaan mandiri negara berkembang akan berujung pada pajak yang lebih tinggi dan peningkatan pinjaman pemerintah, yang berarti penduduk berpenghasilan rendah di dunia akan memiliki penghasilan yang lebih sedikit untuk kebutuhan sehari-hari mereka. Selain itu, pengeluaran rumah tangga di negara-negara ini secara rata-rata akan berkurang 2 triliun dolar AS setiap tahunnya. Secara total, antara sekarang dan tahun 2060, konsumsi rumah tangga negara berkembang akan berkurang sebesar USD79,2 triliun.

Di sisi lain, pembiayaan oleh negara maju dapat meningkatkan pengeluaran rumah tangga negara berkembang rata-rata sebesar USD1,7 triliun setiap tahun (dibandingkan dengan pembiayaan mandiri) dan juga akan merangsang pertumbuhan global – PDB bisa mencapai USD108,3 triliun lebih tinggi secara kumulatif antara sekarang dan tahun 2060 jika transisi dibiayai oleh negara-negara maju. Negara berkembang yang mampu mencapai net-zero tanpa menghambat pertumbuhan atau kemakmuran mereka akan mewakili transisi yang adil.

Bill Winters, Group Chief Executive, Standard Chartered dalam siaran pers, mengatakan: “Negara berkembang membutuhkan banyak investasi untuk melakukan transisi mencapai net zero dan taruhannya sangatlah tinggi. Tanpa bantuan dari pasar negara maju, peningkatan kemakmuran negara berkembang dapat terhenti atau justru menurun. Hal tersebut bukan hanya tidak adil namun juga akan berdampak sangat negatif terhadap perekonomian dunia.

“Namun, yang lebih penting lagi, kegagalan untuk memberikan pendanaan bagi transisi negara berkembang dapat berarti tujuan iklim tidak tercapai, sehingga bisa memicu bencana lingkungan. Pemerintah dan sektor keuangan perlu bersama-sama membantu memfasilitasi aliran investasi ke negara berkembang sesegera mungkin. Pendanaan oleh pasar negara maju dapat membantu mencegah hal terburuk dari pemanasan global, serta mendorong PDB global.”

Lebih lanjut Winters menegaskan, “pendekatan kami terhadap net zero Standard Chartered telah berkomitmen untuk mencapai net zero pada emisi pembiayaan kami pada tahun 2050, dengan target sementara untuk pembiayaan di sektor yang terkait karbon pada tahun 2030.

“Kami berencana untuk memobilisasi USD300 miliar dalam keuangan hijau dan transisi menuju net zero pada tahun 2030 untuk mendukung transisi ke net zero di wilayah-wilayah di mana kami beroperasi, didukung oleh Kerangka Kerja Keuangan Transisi kami sendiri. Kami mempercepat solusi baru, termasuk melalui Tim Percepatan Transisi baru yang berdedikasi

Related posts