Indonesia Animation Report 2026: Industri Animasi Nasional Tumbuh Pesat, Menuju Pusat Hak Kekayaan Intelektual

Indonesia Animation Report 2026 diluncurkan.

GETPOST.ID, Jakarta –  Industri animasi Indonesia mencetak sejarah baru. Untuk pertama kali, pendapatan dari karya animasi orisinal atau original Intellectual Property (IP) melampaui pendapatan dari penyediaan jasa (service) yang diekspor.

Hasil ini  berdasarkan Indonesia Animation Report 2026, yang resmi diluncurkan oleh Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Teuku Riefky Harsya di Jakarta, kemarin.

Read More

Indonesia Animation Report 2026, sebuah studi komprehensif yang memetakan kondisi, potensi, dan tantangan industri animasi nasional.

Menariknya, laporan ini menyebutkan, pendapatan IP tumbuh 279,53% pada tahun lalu, menandai pergeseran penting menuju ekonomi berbasis kekayaan intelektual. Saat ini terdapat 308 karya animasi orisinal aktif yang diproduksi dan didistribusikan di berbagai platform global.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menekankan pentingnya laporan ini sebagai dasar kebijakan berbasis data dalam pengembangan industri animasi nasional.

“Industri animasi bagian penting dari ekonomi kreatif, yang memiliki potensi besar sebagai mesin pertumbuhan ekonomi baru. Laporan ini menjadi landasan penting mendorong transformasi industri menuju model berbasis kekayaan intelektual berdaya saing global.” ujar Menteri Ekraf dalam siaran pers.

Berdasarkan riset terhadap 262 studio animasi dengan 3.448 tenaga kerja, industri animasi Indonesia menunjukkan pertumbuhan signifikan. Nilai industrinya mencapai Rp 798,15 miliar pada 2025, meningkat lebih 3,3 kali lipat kurun 10 tahun dengan pertumbuhan rata-rata 12,86% per tahun.

“Laporan ini hasil kolaborasi antara Kementerian Ekonomi Kreatif, Asosiasi Industri Animasi Indonesia (AINAKI), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Universitas Dian Nuswantoro, serta kelanjutan dari riset sebelumnya (2015–2020),” ujar menteri.

Ketua Umum AINAKI Daryl Wilson menambahkan, salah satu temuan penting laporan ini, sektor jasa animasi memiliki kontribusi ekonomi signifikan, meski selama ini belum sepenuhnya terpetakan dan terkategorikan secara optimal dalam kerangka ekonomi nasional.

Riset ini juga mengungkap sejumlah tantangan terkini industri animasi nasional. Antara lain sebagain besar studio masih kekurangan dana untuk ekspansi global, banyak karya animasi belum memiliki perlindungan HKI, sulitnya studio berbasis IP memiliki akses kredit perbankan, dan banyak tenaga kerja berstatus freelance/kontrak.

Indonesia Animation Report 2026 secara resmi diluncurkan Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Teuku Riefky Harsya.
Jadi Pemain Industri Animasi Dunia

Laporan ini juga menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan hexahelix, melibatkan pemerintah, industri, akademisi, komunitas, media, dan lembaga keuangan dalam membangun ekosistem industri animasi terintegrasi.

“Indonesia Animation Report 2026 menjadi bukti animasi Indonesia tidak lagi hanya berbicara produksi, tapi tentang kepemilikan gagasan, talenta, dan kekayaan intelektual. UDINUS bangga menjadi bagian kolaborasi ini, karena kampus memiliki tanggung jawab melahirkan SDM unggul, kreatif, riset terapan, dan inovasi yang mampu mendorong industri animasi nasional naik kelas. Kami berharap laporan ini menjadi pijakan strategis bagi lahirnya lebih banyak IP animasi Indonesia yang berdaya saing global,” ujar Prof Pulung, Rektor Universitas Dian Nuswantoro.

Ke depan, animasi Indonesia tidak hanya diharapkan menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tapi juga mampu menjadi salah satu barometer industri animasi di tingkat global.

“Pusat Riset Masyarakat dan Budaya BRIN berkomitmen terus mendampingi perkembangan industri ini melalui dukungan riset kajian dan terapan di bidang seni dan desain. Alhasil, kekayaan budaya Indonesia, seperti fabel dan folklor Nusantara, dapat ditransformasikan menjadi aset digital bernilai tinggi dan berdaya saing di panggung dunia,” tambah Aulia Hadi, PhD. Kapus PRMB BRIN.

Menindaklanjuti laporan ini, ada rekomendasiL lima paket kebijakan strategis, termasuk reformasi akses pembiayaan berbasis kekayaan intelektual, percepatan perlindungan HKI, pembangunan jalur distribusi global, transformasi ekosistem talenta, serta penguatan infrastruktur dan desentralisasi industri.

Dengan implementasi kebijakan terintegrasi, industri animasi Indonesia diproyeksikan mampu menembus Rp 1 triliun pada 2030, sekaligus memperkuat posisi sebagai salah satu kekuatan ekonomi kreatif di kawasan Asia Tenggara.

 

Related posts