Flash Report April 2026 by Rumah123: Harga Rumah di 11 Kota Melonjak di Maret 2026

GO-Home-Cisauk-BSD

GETPOST.ID, Jakarta– Pasar properti sekunder Indonesia menutup Q1 2026 dengan catatan yang melampaui ekspektasi. Berdasarkan laporan Flash Report April 2026 by Rumah123, harga rumah nasional tumbuh 1,6% secara bulanan (MoM) di bulan Maret, membalikkan kontraksi sebesar 1,2% yang sempat terjadi pada Februari lalu. Namun angka nasional bukan yang paling menarik. Yang sesungguhnya mengubah narasi pasar yaitu: untuk pertama kalinya dalam setahun, 11 dari kota besar di Indonesia serentak mencatat kenaikan harga tahunan positif.

grafik rumah bulanan

Hal ini bukan sekadar pemulihan, melainkan sinyal awal terjadinya desentralisasi struktural pasar properti Indonesia, yang biasanya didominasi oleh Kota Jakarta menuju ekosistem pertumbuhan yang lebih merata, didorong oleh infrastruktur, kebijakan, dan transformasi demografis.

Read More

Bulan Maret 2026 menandai dominasi kota-kota di luar Jakarta sebagai motor penggerak harga. Yogyakarta (+5,0% YoY), Denpasar (+4,5% YoY), dan Makassar (+4,4% YoY) memimpin klasemen kenaikan harga tahunan.

Head of Research Rumah123, Marisa Jaya, memaparkan bahwa data ini merupakan sinyal kuat terjadinya desentralisasi pertumbuhan di pasar properti tanah air.

“Lonjakan jumlah kota yang mencatat kenaikan harga tahunan, dari 6 menjadi 11 kota – mengonfirmasi bahwa momentum pemulihan tidak lagi bersifat sporadis atau terpusat di satu wilayah. Kami melihat adanya pergeseran struktural ke kota-kota dengan fundamental ekonomi dan katalis infrastruktur yang kuat. Dengan suku bunga BI yang stabil di level 4,75% dan inflasi yang melandai ke 3,48%, kepercayaan diri pembeli untuk masuk ke pasar kini berada pada level tertinggi dalam setahun terakhir,” ujar Marisa.

Di tengah tren nasional yang membaik, Jakarta dan Surabaya masih mencatat kontraksi harga tahunan, masing-masing sebesar -0,5% dan -0,9% YoY. Jakarta secara khusus telah mengalami deflasi harga tahunan selama 12 bulan berturut-turut.

Rumah123 mengidentifikasi kondisi ini sebagai fase “Price Discovery”. Meskipun Jakarta tetap menjadi destinasi populer kedua (11,1% share enquiries), pasar sedang melakukan koreksi untuk menyeimbangkan oversupply di segmen apartemen mewah dengan daya beli riil masyarakat. Namun, adanya kenaikan bulanan (+1,1% MoM) di Jakarta pada Maret ini memberikan indikasi awal bahwa harga mulai menemukan titik dasar (bottoming  out) sebelum kembali menguat.

Indikator penting lainnya adalah menyusutnya volume suplai rumah sekunder sebesar 8,1% YoY. Berkurangnya stok di pasar, berbanding terbalik dengan pencarian (enquiries) yang terus aktif, menciptakan kondisi yang mendukung kenaikan harga jangka menengah.

“Pasar secara bertahap bergerak dari buyer’s market menuju seller’s market. Dengan insentif PPN DTP yang masih berlaku hingga akhir tahun dan kondisi makroekonomi yang kondusif, kami memproyeksikan Q2 2026 akan menjadi periode akselerasi bagi sektor properti sekunder,” tutup Marisa.

Related posts