Kisah Ilham, Pilihan yang Tepat Memilih Kuliah di Malaysia setelah Gagal PTN Kini Menangani Klien Setingkat Menteri

Yuk abroa kuliah di malaysia

GETPOST.ID, Jakarta– Setiap tahun, ribuan lulusan SMA di Indonesia menghadapi tantangan yang sama: tidak berhasil lolos seleksi perguruan tinggi negeri (PTN) dan dihadapkan pada biaya kuliah perguruan tinggi swasta yang relatif tinggi. Kondisi ini membuat banyak siswa dan orang tua kebingungan menentukan langkah selanjutnya untuk melanjutkan pendidikan.

Seleksi masuk PTN yang semakin kompetitif membuat tidak semua siswa bisa mendapatkan kursi di kampus negeri. Sementara itu, biaya pendidikan di sejumlah perguruan tinggi swasta di Indonesia sering kali menjadi pertimbangan besar bagi keluarga, terutama bagi mereka yang mencari pilihan pendidikan berkualitas dengan biaya yang lebih terjangkau.

Read More

Dalam situasi tersebut, kuliah di luar negeri mulai dilirik sebagai alternatif yang realistis. Salah satu negara tujuan yang semakin populer adalah Malaysia. Negara tetangga ini menawarkan berbagai program pendidikan internasional dengan biaya yang dinilai relatif kompetitif dibandingkan beberapa kampus swasta di Indonesia.

Selain faktor biaya, kedekatan geografis, kemiripan budaya, serta penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar juga menjadi alasan mengapa Malaysia menjadi pilihan menarik bagi lulusan SMA Indonesia.

Di sisi lain, semakin banyak siswa yang berusaha menghindari mengambil gap year. Banyak lulusan merasa khawatir kehilangan momentum belajar jika harus menunda kuliah selama satu tahun untuk mencoba kembali seleksi PTN pada tahun berikutnya. Hal ini mendorong mereka untuk segera mencari alternatif pendidikan agar dapat langsung melanjutkan studi setelah lulus SMA.

Asal Kuliah dan Momok Gap Year

Ketakutan dari orang tua dan siswa menghindari gap year, alhasil memiliih jurusan yang tidak sesuai dengan minta tapi lebih kepada gengsi.

Ilham, salah satu alumni sebuah kampus di Malaysia mengenang soal gap year saat dia lulus SMA.  “Awalnya emang ikut-ikutan teman pas pilih PTN di sini harus kampus yang terkenal. Sekalinya mau masuk swasta pun ya yang barengan teman. Tapi sekarang sadar, dulu itu cuma gengsi aja.”

Lalu dia mencoba jalur PTN di UI dan UGM dengan jurusan HI (Hubungan Internasional). Ilham rela belajar mati-matian, ikut les bimbel, agar mendapatkan  skor tingg Tapi semua usahanya gagal. Alih-alih stres atau gap year, Ilham memutuskan daftar HI di Universiti Utara Malaysia (UUM). Sebelum memutuskan memilih UUM, Ilhan lebih dulu mencari informasi sebanyak-banyaknya.

“Ternyata kampusnya bagus banget. Bonusnya, dosennya bukan cuma pengajar biasa,  ada yang mantan diplomat Kedubes Malaysia, dan banyak juga yang praktisi industri. Belajar di sini bener-bener dari ahlinya, jadi ilmunya langsung bisa dipraktekin,” kata Ilham.

Dari Magang ke Kesempatan Internasional

kuliah di malaysia

Di Malaysia untuk syarat kelulusan, siswa diharuskan magang lebih dulu selama 6 bulan. Ilham magang di sebuah kantor di Kuala Lumpur. Lantaran etos kerjanya baik, lalu dia ditawarkan kerja full time di kantor cabang   perusahaan itu di Jakarta. Kini Ilham bahkan mendapatkan kepercayaan menjalin kerja sama bilateral hingga menangani klien setingkat menteri.

“Ini bukan karena kuliah di PTN, tapi lantaran saya memiliki pengalaman internasional dan networking yang kuat. Jadi pengalaman lebih bernilai dibandingkan dengan sekedar gengsi dari nama kampus saja,” kata Ilhan yang bersyukur bisa kuliah di Malaysia.

Kini tidak ada lagi kata menyesal karena tidak diterima di PTN beberapa tahun lalu. “Kalau saya di PTN mungkin saya nggak bisa berada di posisi sekarang,” kata Ilham.

Biaya Kuliah di Malaysia Memang Lebih Murah?

Kalau melihat angka untuk biaya kuliah di kampus ternama Malaysia ternyata bisa lebih hemat 10-20% dibanding jalur Mandiri atau universitas swasta papan atas di Indonesia. Dengan biaya hidup yang hampir sama dengan Jakarta atau Surabaya. Selain biaya yang dikeluarkan orang tua lebih hemat, siswa juga bisa mendapatkan lingkungan internasional yang menuntut bahasa Inggris dan pengalaman praktis.

Fleksibilitas: Masih Banyak Pintu yang Terbuka

Salah satu alasan kenapa Malaysia menjadi pilihan tepat, lantaran pendaftarannya fleksibel. Siswa nggak perlu khawatir gap year setahun penuh. Hingga Juli 2026, pendaftaran untuk banyak kampus masih terbuka. Jadi momentum belajar setelah lulus SMA tidak lewat begitu saja.

Yuk Abroad Teman Ngobrol

Kalau mau lebih banyak insight soal strategi pendidikan global, tim Yuk Abroad siap jadi teman ngobrol lewat Instagram @Yuk.abroad. Kadang, melangkah keluar zona nyaman justru cara paling cerdas untuk masa depan siswa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Related posts