GETPOST.ID, Jakarta – Wacana penulisan ulang sejarah Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan RI sedang hangat diperbincangkan. Dengan target rampung pada 17 Agustus 2025 dan anggaran sekitar Rp 9 miliar, proyek ini disebut-sebut bertujuan menghapus bias kolonial dan menyajikan sejarah dari perspektif Indonesia atau “Indonesia-sentris”.
Namun, di balik niat baik ini, muncul pertanyaan mendasar, apakah pendekatan dan sumber daya yang ada akan menghasilkan narasi sejarah benar-benar akurat, mendidik, dan mampu mengangkat harkat bangsa secara jujur?
Sejarah “Data-Sentris,” Bukan “Sentrisme” Lain
Sejarah, pada hakikatnya, adalah upaya memahami masa lalu berdasarkan bukti konkret dan fakta. Orientasi penulisan sejarah seharusnya adalah data-sentris, bukan “Indonesia-sentris” atau sentrisme lain, yang berpotensi membelokkan kebenaran.
Mengapa ini krusial?
Pertama, sejarah yang didasarkan pada data melatih generasi muda untuk berpikir kritis, logis, dan objektif. Ini fondasi penting untuk membentuk warga negara yang waras, mampu menganalisis informasi, dan tidak mudah termanipulasi. Jika sejarah ditulis dengan bias tertentu, berisiko menjadi alat propaganda menyesatkan.
Kedua, memahami jati diri bangsa memang esensial, tapi jati diri yang kuat lahir dari pemahaman jujur tentang masa lalu, termasuk keberhasilan dan kegagalan. Mitos atau narasi yang didistorsi justru akan merapuhkan fondasi identitas nasional. Hanya dengan menghadapi fakta sejarah secara obyektif, satu bangsa mampu belajar dari kesalahan dan tidak mengulanginya di masa depan.
Contoh paling nyata adalah narasi “350 tahun penjajahan.” Retorika ini, meski efektif untuk mengobarkan semangat perjuangan di masa lalu, secara faktual perlu ditinjau ulang. Wilayah Indonesia tidak dijajah secara serentak selama itu, dan perlawanan terhadap kolonialisme tidak pernah berhenti. Merevisi narasi ini bukan berarti menafikan penderitaan, melainkan menyajikan gambaran lebih akurat dan bernuansa.
Kekayaan Peradaban Belum Tuntas Terungkap
Indonesia adalah rumah bagi kekayaan sejarah dan peradabangluar biasa. Jauh sebelum kedatangan bangsa asing, leluhur kita telah menunjukkan tingkat kehebatan yang patut dibanggakan:
- Mahakarya Budaya: keris dan gamelan adalah bukti keterampilan metalurgi, seni, dan filosofi tinggi.
- Pengetahuan Lintas Generasi, kepemilikan bahasa dengan kosakata kaya dan aksara sendiri (Jawa, Sunda, Batak, dll.) menunjukkan kemampuan merekam pemikiran dan budaya.
- Pemikiran Ilmiah, penciptaan almanak yang kompleks adalah bukti pemahaman astronomi, matematika, dan observasi alam mendalam.
Ini adalah sebagian kecil dari bukti bangsa-bangsa yang kini membentuk Indonesia adalah kumpulan entitas yang hebat dan memiliki peradaban mandiri. Kehebatan ini harus dikuak dan dibuktikan secara benar, sesuai kaidah ilmiah universal berlaku.
Namun, di sinilah letak kekhawatiran besar: anggaran Rp 9 miliar untuk proyek sebesar ini patut dipertanyakan efektivitasnya.
Berdasarkan pengalaman riset saya pada 2008/2009 untuk perencanaan sebuah game Nusantara Online yang bahkan di tataran permukaan saja menghabiskan Rp 500 juta, angka Rp 9 miliar untuk menguak sejarah dan peradaban secara komprehensif terasa sangat minim.
Faktanya, banyak potensi obyek sejarah dan peradaban manusia Indonesia yang hingga, kini belum tuntas dikuak secara mendalam. Ada begitu banyak jejak peradaban yang berserakan di berbagai wilayah Indonesia yang membutuhkan penelitian ilmiah serius dan mendalam untuk mengungkap nilai, makna, serta data historis yang dikandungnya.
Jika anggaran terbatas, ada risiko penelitian dilakukan secara superfisial, gagal menggali data baru, atau hanya menafsirkan ulang sumber yang sudah ada, tanpa terobosan berarti. Ini menghasilkan narasi yang kurang kaya, kurang mendalam, dan tidak mencapai obyektivitas yang diharapkan.
Narasi Gunung Padang: Jujur, Hati-hati, dan Jauhi Kesembronoan
Salah satu obyek yang sangat mungkin masuk dalam narasi sejarah baru yang akan ditulis adalah situs Gunung Padang. Potensi situs ini untuk mengungkap peradaban prasejarah yang menakjubkan memang besar, dengan klaim usia sangat tua. Namun, justru karena signifikansi luar biasa, penarasiannya harus dilakukan dengan hati-hati dan berdasarkan kaidah ilmiah ketat. Jangan sampai narasi mengenai Gunung Padang menjadi bombastis dan berujung pada cemooh publik internasional.
Mengapa kehati-hatian ini mutlak diperlukan? Karena belum ada konsensus ilmiah yang luas dan diterima secara universal mengenai semua klaim, terutama tentang usia pasti struktur utama dan apakah itu sepenuhnya buatan manusia.
Dalam dunia ilmiah, temuan baru harus melewati proses peer review yang ketat dan verifikasi oleh komunitas independen, sebelum diterima sebagai fakta. Klaim bombastis tanpa dukungan verifikasi memadai akan dicemooh sebagai pseudoscience dan dapat merusak reputasi akademik serta ilmiah Indonesia di mata dunia.
Ada kecenderungan dari beberapa pihak, yang “ultra”—baik ultra-nasionalis maupun ultra-religius—untuk langsung menonjolkan situs ini sebagai bukti “puncak kejayaan” peradaban purba Indonesia. Dorongan untuk merayakan kehebatan ini, tanpa menunggu bukti solid, adalah berbahaya dan tidak bijak. Jika narasi sudah “diputuskan” sebelum penelitian tuntas, ini bisa menghambat riset lanjutan yang obyektif dan jujur.
Penulisan sejarah yang jujur akan mendidik generasi muda untuk menghargai proses, bukti, dan objektivitas, bukan sekadar hasil atau klaim bombastis. Mengakui ada hal-hal yang masih belum kita ketahui adalah tanda kematangan ilmiah. Jika narasi Gunung Padang disampaikan sebagai misteri yang masih dalam proses pengungkapan, ini akan memicu rasa ingin tahu dan semangat penelitian mandiri di kalangan generasi muda, menginspirasi mereka untuk menjadi ilmuwan yang akan melanjutkan penggalian kebenaran.
Mengawal Obyektivitas dan Integritas
Kita berharap proyek ini tidak hanya menjadi upaya “menulis ulang,” tapi benar-benar sebuah “revisi” yang akurat, komprehensif, dan menjunjung tinggi integritas ilmiah.
Untuk memastikan ini, tim harus memprioritaskan data primer; mendorong penelitian mendalam dan penggalian data primer baru, serta eksplorasi situs-situs yang belum terkuak.
Kemudian transparansi metodologi, memaparkan metode penelitian dan interpretasi secara jelas kepada publik. Lalu keterbukaan kritik ilmiah, dadilah terbuka terhadap masukan dan kritik dari komunitas akademisi dan publik, terutama dalam hal temuan yang belum mencapai konsensus ilmiah.
Dan terakhir, dukungan anggaran memadai; pemerintah perlu memastikan anggaran cukup untuk mendukung riset yang benar-benar komprehensif.
Penulisan ulang sejarah nanti, seharusnya ternarasikan secara jujur apa adanya. Diharapkan kemudian akan memicu setiap generasi bangsa untuk terus menguak kebenaran ilmiah secara universal, hingga merambah kepada semua potensi jejak sejarah yang ada. Masa depan bangsa yang waras dan logis sangat bergantung pada bagaimana kita memahami dan mengajarkan masa lalunya.
Penulis: Heru Nugroho, Praktisi TI, Pemerhati Budaya Nusantara



