Peran Influencer Marketing bagi Produk Multifinance Zaman Now

Pembiayaan di diler mobil Toyota.

GETPOST.ID, Jakarta – MarkPlus Inc bersama Partipost menggelar diskusi bertajuk Multifinance Industry Update: Game Changing Strategy to Generate New Leads di Jakarta, kemarin (12/3).

Diskusi ini diisi oleh Iwan Setiawan (CEO MarkPlus Inc & Marketeers) dan Andrew A Tjoa, Assistant Country Head Partipost.

Read More

Pertama-tama, Iwan Setiawan memaparkan hasil riset kolaborasi antara MarkPlus Inc dan Partipost yang menyoroti keterkaitan antara industri multifinance dan influencer marketing.

Menurut Iwan, membangun reputasi brand yang kuat melalui influencer marketing dapat membuka peluang baru bagi produk multifinance. Kemitraan strategis dengan diler otomotif, platform e-commerce dan bisnis terkait, sebelumnya menjadi andalan dalam mendorong pertumbuhan bisnis multifinance.

Namun, tren industri menunjukkan, pendekatan ini kini kurang efektif. Data Gaikindo 2025, penjualan otomotif pada 2024 turun 17% dibandingkan tahun sebelumnya. Alhasil, penjualan mobil tidak pernah mencapai 1,2 juta unit lagi sejak 2015.

“Multifinance itu harus dikenal, walau dorongan utamanya datang dari partner. Ketika pelanggan dihadapkan pada dua pilihan, mereka akan memilih yang lebih dikenal,” ujar Iwan.

Maka itu, lanjut dia, penting menggabungkan strategi kemitraan (strategic partnership) dan pendekatan pull, seperti brand building agar lebih efektif dalam menjangkau pasar.

Berdasarkan hasil riset lanjutan MarkPlus Insight, terdapat tiga aspek penting yang harus diperhatikan dalam membangun reputasi brand, yaitu Transparent Communications, Regulatory Compliance, dan Customer Education.

Oleh karena itu, building awareness dan menciptakan pengalaman positif bagi pelanggan juga menjadi faktor penting. Ini dapat dicapai melalui personalized interaction, produk pinjaman fleksibel, serta loyalty program & rewards.

Ruang deal brand otomotif di pameran IIMS 2025.

Media Sosial

Di era digital ini, kepercayaan pelanggan tidak lagi hanya terbentuk melalui pengalaman langsung, tapi juga melalui interaksi dan testimoni yang tersebar di berbagai platform online.

Data dari Partipost (2023, 2024) dan MarkPlus Insight (2025), sebanyak 85,7% penduduk Indonesia menggunakan media sosial sebagai sumber utama informasi. Hal ini menjadikan media sosial sebagai kanal penting bagi perusahaan untuk menyampaikan informasi secara efektif.

“Media sosial kini berperan penting membangun kepercayaan pelanggan. Pelanggan cenderung mempercayai ulasan oleh influencer dibanding informasi langsung dari akun resmi brand,” ungkap Iwan.

Influencer memiliki peran penting dalam membangun kepercayaan pelanggan, karena mereka dianggap lebih kredibel dan mampu menyampaikan pengalaman lebih nyata dan mudah dipahami dibandingkan iklan resmi dari brand. Ini terkait bahwa influencer dipandang sebagai sosok lebih relatable bagi konsumen.

“Konsumen melihat influencer sebagai cerminan pengalaman nyata yang lebih mudah dipahami,” jelasnya.

Di industri multifinance yang bergantung pada kepercayaan, influencer dapat berperan sebagai advokat yang menyebarkan testimoni positif di media sosial. Strategi ini terbukti efektif untuk mempercepat pembangunan reputasi brand dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap layanan multifinance.

Namun demikian, Iwan mengingatkan, masih banyak influencer yang memiliki pemahaman keliru tentang industri multifinance.

Berdasarkan data MarkPlus Analysis Insight (2025), sekitar 67% influencer masih mengira produk multifinance sama dengan layanan keuangan lain, seperti investasi atau mobile banking.

Maka itu, brand perlu berkomunikasi jelas dengan influencer agar terhindar dari kesalahpahaman. Caranya, brand dapat membuat strategic outline, pemetaan target audience, serta memberikan do & don’ts agar pesan dan nilai yang ingin disampaikan tetap terjaga oleh para influencers.

Andrew A. Tjoa, Assistant Country Head Partipost, menambahkan influencer memiliki cara tersendiri untuk membuat konten menarik. Tak heran, banyak influencer lebih menyukai pendekatan storytelling karena dinilai lebih alami dan efektif dalam menarik perhatian audiens.

“Influencer memiliki cara sendiri untuk membuat konten menjadi lebih menarik. Banyak dari mereka yang lebih menyukai storytelling, sehingga sebagai brand tidak perlu terlalu hard-selling,” jelas Andrew.

Dia juga mengingatkan, meski influencer marketing kerap diukur dengan metrik performa, strategi ini sebenarnya lebih dari sekadar angka. Influencer marketing berperan besar dalam membangun kesadaran (awareness) dan kredibilitas (credibility).

“Banyak brand yang fokus pada hasil instan, padahal influencer marketing lebih berfungsi membangun kepercayaan jangka panjang. Penting untuk memahami, strategi ini bekerja secara bertahap dan memiliki dampak signifikan pada citra brand dalam jangka waktu lebih panjang,” paparnya.

 

Related posts