Grant Thornton Indonesia: Perusahaan Mid-Market Berperan Strategis di Ekosistem Bisnis Berkelanjutan

GETPOST.ID, Jakarta – Kesadaran global tentang usaha keberlanjutan semakin tinggi, terutama bagi perusahaan-perusahaan besar dunia karena kewajibannya soal pelaporan dan transparansi. Namun, peran perusahaan-perusahaan sektor mid-market, sebagai kekuatan pendorong ekonomi global, seringkali terabaikan. Padahal perusahaan-perusahaan ini berperan penting menciptakan masa depan  berkelanjutan.

Saat ini keberlanjutan jadi kebutuhan mutlak bagi perusahaan sektor mid-market. Mereka tertekan  persaingan pasar, permintaan klien, dan tekanan investor, sedangkan saat bersamaan, harus memenuhi regulasi dan standar ketat.

Read More

Namun, bagi banyak perusahaan, ini adalah area baru yang belum memiliki peta jalan atau panduan jelas. Padahal perusahaan sektor mid-market punya peran vital di rantai pasokan global, menghubungkan dan melayani organisasi dan klien di seluruh dunia.

Seiring peningkatan keberlanjutan di sektor ini, mereka akan membantu perusahaan besar mematuhi persyaratan rantai pasokan dan memberikan contoh, serta membuka jalan bagi perusahaan kecil. Sektor mid-market menjadi kunci keberlanjutan ekosistem global, agar dapat menjalankan peran ini secara maksimal, sektor mid-market memerlukan panduan, dukungan, dan lingkungan bisnis yang memungkinkan mereka berkembang.

“Perusahaan sektor mid-market adalah tulang punggung perekonomian Indonesia dan global. Dengan keberlanjutan sebagai fokus utama, Grant Thornton Indonesia berkomitmen membantu perusahaan-perusahaan ini memahami tantangan dan memanfaatkan peluang dalam perjalanan mereka menuju masa depan lebih berkelanjutan,” ujar Anugrah Fitrah Ramadhan, Tax and Transfer Pricing Director di Grant Thornton Indonesia, dalam siaran persnya, Senin (18/11).

Menurutnya, keberlanjutan bukan hanya tentang memenuhi regulasi, tapi juga menciptakan nilai jangka panjang bagi bisnis, klien, dan masyarakat secara keseluruhan. Kami percaya dengan bimbingan tepat, perusahaan mid-market dapat memperoleh keunggulan kompetitif signifikan.

Implementasi di Indonesia

Indonesia  mulai menerapkan beberapa inisiatif pajak hijau, meski pajak karbon masih  tahap pengembangan. Pajak karbon direncanakan diterapkan pada 2026, sejalan dengan standar internasional dan sebagai respons terhadap Mekanisme Penyesuaian Karbon Perbatasan (CBAM) Uni Eropa.

Komitmen pemerintah terhadap keberlanjutan tercermin dalam kerangka hukum nasional, termasuk UUD 1945 pasal 33 yang menekankan kegiatan ekonomi berkelanjutan sambil memastikan lingkungan yang sehat, serta UU No 32 Tahun 2009 yang fokus pada perlindungan dan pengelolaan lingkungan untuk pembangunan berkelanjutan.

Anugrah Fitrah Ramadhan mengatakan, Indonesia berkomitmen kuat mencapai keberlanjutan, seperti tercermin dalam kerangka hukum nasional. Pengenalan pajak karbon di Indonesia dapat mendorong transformasi industri menuju energi yang lebih bersih dan ramah lingkungan.

Rekomendasi

Grant Thornton merekomendasikan perusahaan mid-market beberapa hal berikut untuk mendukung upaya dalam menyambut masa depan berkelanjutan:

  1. Segera Ambil Langkah untuk Memenuhi Persyaratan Pelaporan

Regulasi yang semakin kompleks mendorong pentingnya langkah-langkah keberlanjutan yang lebih cepat diambil. Menunda-nunda pelaksanaan langkah keberlanjutan hanya akan meningkatkan biaya dan tantangan yang dihadapi perusahaan. Dengan memulai lebih awal, perusahaan dapat membangun pengetahuan dan proses yang diperlukan untuk mempermudah transisi dan mengurangi tantangan implementasi.

2. Keberlanjutan Sebagai Keunggulan Kompetitif

Perusahaan yang berhasil dalam menerapkan keberlanjutan dapat memperoleh keuntungan kompetitif yang signifikan. Dengan memperkuat reputasi brand dan menarik investasi, perusahaan akan lebih mampu menarik dan mempertahankan pelanggan, serta membuka peluang baru di pasar yang semakin mengutamakan praktik bisnis berkelanjutan dan lebih ramah lingkungan.

3. Tantangan dalam Menyelaraskan dengan Regulasi yang Cepat Berubah

Banyak perusahaan sektor mid-market menghadapi kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan regulasi yang berkembang dengan cepat. Namun, dengan bimbingan dari konsultan yang berpengalaman, perusahaan dapat lebih mudah memahami dan menavigasi tantangan ini. Pendekatan yang tepat akan membantu menyederhanakan proses dan mempercepat perjalanan mereka menuju keberlanjutan.

4. Kerjasama dengan Perusahaan Besar di Rantai Pasokan

Perusahaan besar yang sudah berpengalaman dalam menangani regulasi keberlanjutan perlu bekerja sama dengan mitra-mitra mereka di sektor mid-market untuk membantu mereka menavigasi tantangan regulasi. Kolaborasi ini akan memperkuat rantai pasokan yang berkelanjutan, mengurangi risiko kerusakan lingkungan dan efek rumah kaca, dan meningkatkan efisiensi serta reputasi bagi semua pihak yang terlibat.

5. Keberlanjutan Adalah Proses Jangka Panjang

Proses menuju keberlanjutan bukanlah sesuatu yang instan. Dibutuhkan waktu dan penyesuaian terus-menerus untuk menyempurnakan strategi dan pelaporan. Langkah pertama yang diambil, baik itu melakukan asesmen keberlanjutan atau memulai dengan inisiatif kecil, sangat penting untuk membangun fondasi bagi perbaikan yang berkelanjutan.

“Grant Thornton Indonesia percayakeberlanjutan adalah jalan menuju masa depan lebih baik, tidak hanya bagi bisnis, tapi juga untuk masyarakat dan lingkungan. Kami berkomitmen terus mendukung sektor mid-market dalam perjalanan mereka menuju keberlanjutan, agar dapat menciptakan dampak positif lebih besar,” pungkas Anugrah.

Related posts