Mungkinkah Kita Selamat dari Perkataan Orang Lain?

ilustrasi

GETPOST.ID, JakartaUcapan manusia bagaikan laut yang tidak ada ujungnya dan tidak ada habisnya. Kalâmunnâsi lâ yantahîy. Artinya, tidak ada seorang pun yang bisa selamat dari perkataan manusia, di mana pun dan dalam kondisi apapun. Jangankan berbuat buruk, berbuat baik pun tidak lepas dari kritikan dan omongan orang.

Maka, Al-Imam Muhammad Idris Asy-Syafi’i sampai berkalam:

Read More

من يظن إنه يسلم من كلام الناس فهو مجنون ،
قالوا عن الله ثالث ثلاثة
وقالوا عن نبينا محمد ساحر ومجنون ،
فما ظنك بمن هو دونهما ؟

“Siapa mengira dirinya bisa selamat dari perkataan manusia, maka dia adalah orang gila. (Bagaimana tidak), kepada Allah saja mereka mengatakan satu di antara yang tiga (trinitas). Dan, kepada Nabi Muhammad ﷺ mereka menyebutnya penyihir gila. Lalu, bagaimana pula dengan selain Allah dan Rasul-Nya?

Di antara perkataan manusia, tentu saja ada yang harus kita dengarkan. Untuk apa? Agar tahu kelemahan dan kesalahan diri sehingga kita bisa memperbaikinya. Hanya saja jangan jadikan perkataan manusia sebagai beban yang diperturutkan, akan tetapi jadikan dia sebagai pijakan yang akan meninggikan.

Hal ini sebagaimana diungkapkan seorang ‘alim:

فكلام الناس مثل الصخور،
إمّا أن تحملها على ظهرك “فينكسر”،
أو تبني بها برجًا تحت أقدامك
فتعلو وتنتصر”!

Ucapan manusia bagaikan batu. Jika batu itu kau simpan di atas punggungmu, niscaya engkau akan patah. Namun, jika engkau menjadikannya sebagai pijakan untuk membangun menara, niscaya engkau akan tetap tinggi dan menang.”

… Dan, seseorang tidak akan bisa melakukannya dengan sempurna, kecuali dia memiliki prinsip yang kokoh dalam hidupnya. Apakah itu?

Bahwa, selama yang dilakukannya itu dibenarkan syariat, baik menurut akal, lagi tidak menzalimi orang lain, maka lanjutkan. Bahwa, selama yang dilakukannya diarahkan untuk meraih keridhaan Allah, maka teruskan. Karena sesungguhnya:

رضا الناس غاية لا تدرك ورضا الله غاية لا تترك

Ridha seluruh manusia adalah tujuan yang tidak bisa didapatkan. Adapun ridha Allah adalah tujuan yang tidak bisa diabaikan.

Tentu saja, yang terbaik adalah saat kita bisa mendapatkan ridha Allah dan ridha dari orang-orang yang diridhai Allah, yaitu ridhanya para ulama yang lurus beserta orang-orang yang mengikutinya.

Terkait hal ini, ada teladan dari Al-Imam Hasan Al-Bashri rahimahullâh yang layak untuk kita ikuti.

Satu ketika ada seseorang berkata kepadanya, “Wahai Abu Sa’id, sesungguhnya ada beberapa orang yang hadir di majelismu. Hanya saja, mereka datang bukan untuk mengambil ilmu darimu akan tetapi hanya ingin mengambil kekhilafan dari perkataanmu agar mereka bisa mencelamu.”

Apa jawaban Hasan Al-Bashri ketika itu? Beliau berkata:

Anakku, janganlah engkau menganggap hal itu sebagai masalah. Sesungguhnya, yang sangat aku inginkan adalah bisa masuk surga sehingga aku bisa berdampingan dengan Ar-Rahmân serta berteman dengan para nabi. Dan, aku sama sekali tidak mencari selamat dari (perkataan) manusia.”

… Disarikan dari Adab Al-Syaikh Al-Hasan Al-Bashri, karya Al-Hafizh Ibnul Jauzi dan lainnya.

Related posts