Ketika di DBS Foundation Bestari Festival Bicarakan Soal Sandwich Generation, Kegagalan Generasi?

DBS FOundation Bestari Festival 2024. ki-ka: Founder Sekolahmu Najeela Shihab, Founder QM Financial Ligwina Hananto,Riza Putranto dan Host. Foto: Getpost.id

GETPOST.ID, Jakarta- Sandwich generation adalah istilah untuk menggambarkan generasi yang harus menghidupi orang tua dan anak-anaknya secara bersamaan. Istilah ini dianalogikan seperti sandwich, di mana orang tua dan anak-anak berada di lapisan atas dan bawah, sedangkan generasi sandwich berada di tengah-tengah.

Budaya masyarakat Indonesia yang kuat dalam hal goyong royong dan kekeluargaan membantu keluarga adalah hal yang biasa bahkan dinilai baik lantaran menghidupi kedua orang tua menjadi bagian dalam ajaran agama. Tapi seiringnya zaman tradisi saling membantu dan bekerja sama itu perlahan mulai memudar, tergantikan gaya hidup individualistis dan tuntutan modernitas.

Read More

Pakar finansial, Ligwina Hananto menilai perkembangan zaman membawa seseorang semakin hidup secara individualistis. Bahkan dalam hubungan keluarga besar yang semestinya saling membantu, budaya gotong royong tidak benar-benar diterapkan.

“Dulu kita menerima bahwa menghidupi keluarga besar adalah norma. Ini bagian dari budaya kita yang tadinya sangat komunal, tetapi kini mulai terasa membingungkan,” kata Wina-sapaannya di acara DBS Foundation Bestari Festival di Jakarta, pada Sabtu, 19/10/ 2024.

Wina kembali menjelaskan ketika konsep gotong royong tidak diterapkan dengan benar, akan mengakibatkan kegagalan generasi saat ini karena kejadian di masa lalu yang dilakukan generasi yang lebih tua. Seorang anak yang dibebani untuk membantu keluarga akan sulit mengatur keuangannya dalam hidupnya.

“Fenomena sandwich generation ini bukanlah hal yang baru terjadi. Ini bagian dari kegagalan generasi sebelumnya dalam menyiapkan keuangan mereka. Kisah hidup mereka selama satu generasi menggambarkan realitas ini. Bukan untuk menyalahkan, tetapi fakta menunjukkan bahwa mereka gagal menyiapkan masa pensiun, sehingga individu tersebut harus didukung oleh anak-anaknya, yang pada gilirannya harus mendukung anak-anak mereka,” kata Wina.

“Jika kita memilih untuk hidup secara individualistis, seharusnya kita melakukannya secara penuh, aku sendiri, Mama sendiri, Om, dan Tante sendiri, terserah mereka. Namun, sekarang kita berada di tengah-tengah, bingung antara menjadi individualis atau komunal setengah-setengah,” sambungnya.

Ia menilai demikian karena menurutnya, budaya gotong royong bermakna semua urusan adalah urusan kita bersama. Itu semestinya berjalan seimbang tanpa membebani satu pihak dengan pihak lainnya. Kenyataannya di lapangan, nilai itu diterapkan berat sebelah.

“Keberatan saya adalah, gotong royong seharusnya melibatkan 10 orang membantu satu orang. Namun, saat ini yang terjadi adalah satu orang harus membantu 10 orang. Ini bukan gotong royong, melainkan memanfaatkan orang yang terlihat paling sukses, yang sebenarnya tidak adil,” kata Wina.

Wina menggambarkan istilah sandwich generation tidak lagi terbatas pada mereka berada di tengah-tengah, yang harus menyokong orangtua sekaligus anak-anak. “Kenyataannya, banyak yang sendirian harus mendukung keluarga besar. Ini bukan sandwich generation, ini lebih tepat disebut ayam geprek generation. Rasanya sudah berat dan pedas, seperti kerok-keroknya,” tambahnya.

Kira-kira bagaimana menyimbangkannya?

“Kayak gini aku suka sedih dengarnya tapi akhirnya yang kita lakukan adalah penghasilan sama pengeluaran tuh harus matching rumusnya. Mau sampai akhir zaman penghasilan harus lebih besar daripada pengeluaran. Jadi kita mesti ngecek dulu penghasilan, pengeluaran buat dirimu dan orang tua kayak apa, selama itu masih ngepas-ngepas aja ya udah kita hadapilah kenyataannya. Tapi begitu ternyata pengeluaran untuk orang tua dan keluarga besar itu gede banget ya harus bilang ini enggak sanggup. Lama-lama dia kayak menggali kubur sendiri kan,” ujar Wina tegas.

Lebih lanjut Wina mengatakan perlu adanya kerjaan sampingan. Dia mencontohkan salah satu temannya yang membuatkan warung Indomie di garasinya sehingga penghasilan tersebut bisa membantu membayar listrik. “Hal-hal kecil kayak gitu ternyata impact nya buat dia gede banget. Dan yang ketiga adalah aku bilang gotong royong itu 10 bantu 1, bukan 1 bantu 10. “

Related posts