GETPOST.ID, Jakarta – Setahun lalu, sebagian besar dari kita belum pernah dengar jenama BYD di Indonesia, betul kan? Tapi kalau Wuling sudah akrab di telinga kita sejak pandemi 2020.
Secara (sebagian besar) strategi bisnis, Wuling sudah melakukan banyak hal yang (terasa) benar bagi pasar otomotif Indonesia. Misalnya, berinvestasi triliunan rupiah untuk bangun pabrik, memperluas jaringan diler dan bengkel, mengandalkan mobil SUV berkapasita 7 penumpang sebagai hero product, dan pastinya menipiskan margin supaya bisa hadir dengan produk dengan value for money tinggi.
Namun, semua itu tampak tak kentara di pameran otomotif GIIAS 2024 yang baru saja berakhir.
Mengapa di GIIAS 2024, Wuling yang membangun pondasi bisnis di Indonesia sejak 2019, kalah pamor dengan jenama BYD, yang baru masuk Indonesia, belum ada satu tahun?
Perlu diketahui, Wuling mengklaim meraih Surat Pemesanan Kendaraan (SPK) di GIIAS lalu mencapai 2.301 unit. Bandingkan dengan SPK BYD Indonesia yang mencapai 2.920 unit.
Kedua jenama sama-sama dari China, sama-sama punya harga miring, malahan BYD belum punya pabrik dan masih bermasalah dengan sisi suplai produknya ke Indonesia.
Apa yang kurang pas dilakukan Wuling, dan apa yang benar dilakukan BYD?
Salah satu yang sangat diperhatikan BYD, yang sejak awal tidak diperhatikan Wuling, adalah positioning dari mereknya.
Logo Wuling dan BYD
Coba lihat logo BYD dan Wuling di bawah ini, termasuk aplikasinya pada produk mereka. Persepsi apa yang Anda rasakan waktu melihat logo Wuling dan BYD?
Dari rangkuman suara circle saya, melihat logo Wuling, mereka seperti teringat logo sepeda motor China. Sementara melihat logo BYD terasa futuristis, tidak seperti merek asal China. Memang itulah yang juga saya rasakan. Saya dulu pemilik Wuling Almaz, sampai rela menutup logo Wuling dengan stiker karbon hitam supaya terasa tidak norak.
Menurut data yang saya himpun, sejak 2003 sampai sekarang, BYD sudah tiga kali melakuna up-grade logo. Sementara Wuling baru satu, itu pun terasa minor. Logo memang bukan satu-satunya elemen dari merek, tapi salah satu elemen penting dari faktor pembentuk persepsi terhadap sebuah merek.
BYD sadar betul positioning yang ingin mereka bangun, dan yang bisa diterima secara global. Bukan membanggakan identitas made in China mereka. Tapi membuat pasar punya persepsi BYD sebagai sebuah global brand yang kekinian.
BYD sadar betul persepsi ini, sampai beberapa tahun lalu, BYD Inggris pun memutuskan untuk tidak lagi memasang logo BYD di pintu belakang (tail gate) semua mobil BYD yang dijual di benua Eropa.
Ini baru dari soal logo. Yang kedua, saya akan bahas dari segi brand presence di pasar, pemahaman terhadap audiens, dan hero product Wuling versus BYD.
Opini ini ditulis Bima Marzuki, CEO dan Founder Media Buffet



