GETPOST.ID, Osaka – Kota Osaka jadi buah bibir dunia selama 6 bulan terakhir, karena World Expo 2025 Osaka digelar di sana. Selama 6 bulan, 13 April-13 Oktober 2025, turis mancanegara berbondong-bondong ke pameran dunia di kota terbesar kedua di Jepang ini.
Expo Osaka sendiri resmi ditutup pada Senin pekan lalu (13/10). Penyelenggara Expo mencatat, total pengunjung Expo Osaka 2025 mencapai 25 juta orang.
Getpost.id menyambangi Expo Osaka pada 12 Juni lalu.
Setelah puas keliling Expo Osaka, penulis menikmati kota Osaka esok harinya. Kawasan Dotonbori jadi tujuan wajib, karena ada Glico Sign yang menjadi ikon kota Osaka.
Sesuai dugaan, kawasan Dotonbori sangat ramai oleh turis lokal dan mancanegara sejak pagi hingga tengah malam. Sulit menemukan restoran yang kosong, karena semua penuh sesak dengan para turis. Bahkan jajanan street food pun tidak kalah antreannya.
Di tengah kebingungan itu, penulis terbersit mencari restoran halal di Dotonbori saat senja tiba.
Osaka belum begitu panas pada Juni. Hujan suka turun. Angin dingin sering datang. Masih nyaman lah cuacanya.
Tidak mudah mencari restoran halal di Osaka. Di tengah kelelahan keliling Dotonbori, penulis akhirnya mampir ke toko yang menjual cemilan takoyaki isi gurita.
Desain tokonya menarik, dengan patung gurita besar nongkrong di papan nama restorannya. Toko ini persis menempel di gedung belakang Glico Sign.
Untungnya antreannya masih pendek. Nah, saat di baris antrean itulah penulis melihat sebuah tulisan halal, persis di sebelah restoran takoyaki. Setelah membayar takoyaki, penulis pun bergegas menuju restoran halal tersebut.
Restoran Ramen Halal
Restoran ini berada di gedung lama, lokasinya agak menjorok ke dalam. Tidak di pinggir jalan.
Namun, dengan cerdas pemilik restoran memajang mock-up semangkok ramen yang cukup menarik perhatian di luar karena dapat bergerak sendiri.
Ya, ini restoran halal yang menjual menu ramen. Seperti biasa, restoran ini sempit, perkiraan penulis hanya dapat menampung 6-8 orang. Untungnya mereka punya lantai 2 dan ada musala!
Ya, meski sangat kecil, musala di Dotonbori sebuah anugerah. Penulis pun menumpang salat magrib di sini.
Setelah melihat buku menu, penulis pun memesan ramen telur dengan level tidak pedas dan oca hangat.
Di sebelah penulis, sepasang turis asal Tangerang, Indonesia, sedang melahap satu set menu ramen dan wagyu gyukatsu.
Menunggu pesanan tiba, penulis mengobrol sedikit dengan keduanya.
Mereka mengaku baru saja mendarat di Osaka dan langsung mencari restoran halal via Google Maps. Ketemulah restoran ini.
Tiba-tiba pintu restoran dibuka, sepasang turis masuk dan duduk di sisi lain saya. Saking sempit, posisi duduk saya dengan mereka membuat siku kami sering bersinggungan.
Dua turis asal Indonesia dan Malaysia ini mengaku sudah beberapa kali ke restoran halal ini. “Rasanya dan level pedasnya cocok dengan lidah kita, orang Asia Tenggara,” ujarnya sambil tersenyum.
Sambil menunggu ramen dihidangkan, penulis melahap takoyaki yang masih hangat. Ajib rasanya!
Tak lama, ramen telur pun disajikan di meja panjang kami. Saya pun mengaduk semua condiment-nya menyatu supaya lebih nikmat.
Memang porsinya cukup banyak. Dijamin kenyang menikmati satu porsi ramen di sini. Kuahnya merah dan cukup pedas buat saya.
Setelah rehat sejenak akibat kekenyangan, saya pun ke meja kasir, yang mepet dengan pintu restoran.
Semangkok Ramen Rp 400 Ribu
Setelah menghitung, kasir menyodorkan tagihan senilai lebih 4.000 yen untuk satu mangkok ramen dan segelas oca. Ternyata level pedas ada biayanya. Makin pedas, makin mahal!
Otak penulis pun berputar: ternyata seporsi itu setara sekitar Rp 400 ribu!
Di luar restoran, penulis bertanya iseng ke turis asal Tangerang berapa biayanya untuk satu set menu ramen dan gyukatsu.
“Sekitar 6.000 yen mas,” jawabnya sambil melangkah ke luar menuju gemerlap Glico Sign.



