GETPOST.ID, Jakarta– Bank DBS Indonesia mengucurkan dana hibah sebesar Rp48 miliar untuk program mendorong pertumbuhan dan pengembagan serta pemberdayaan perempuan dan usaha kecil yang bekerjasama dengan Yayasan Mercy Corps Indonesia (Mercy Corps Indonesia) dan Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia).
“Dengan dana hibah Rp48 miliar yang dikucurkan untuk program ini, kami percaya dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas. Selain memberikan bantuan pendanaan, kami juga memastikan seluruh program kemitraan ini dapat menciptakan dampak jangka panjang bagi seluruh penerima manfaat dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi inklusif yang berkelanjutan,” ujar Head of Group Strategic Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika dalam peluincuran Program Inklusi Keuangan dan Peningkatan Kesiapan Kerja di DBS Tower Jakarta Rabu (15/11/25).
Pelaksanaan program dilakukan di 4 kota di Indonesia mulai Oktober 2025-September 2027 dan target total manfaat bisa mencapai 140 ribu individu (kaum muda termasuk penyandang disabilitas, perempuan serta perempuan pemilik usaha kecil).
“Program ini bertujuan untuk jangka panjang yang fokus kepada inklusi kesehatan dan ketahanan keuangan perempuan. Indikatornya bisa memperluas jangkauan pasar yang nantinya bisa mengembangkan usaha di berbagai macam jalur pemasaran digital, dan kami mempunyai pengalaman sejak pandemi bagaimana marketing digital membantu banyak perempuan dan umkm,” ujar Executive Director Yayasan Mercy Corps Indonesia Ade Soekadis.
Meningkatkan Literasi dan Inklusi Keuangan Perempuan Pengusaha Mikro di Perkotaan
Dalam dua dekade terakhir, perempuan Indonesia mencatat kemajuan signifikan di ranah publik dan sektor strategis, terutama melalui UMKM. Menurut data Kementerian UMKM, jumlah UMKM di Indonesia pada 2024 mencapai lebih dari 66 juta unit dan berkontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 61 persen atau senilai Rp9.580 triliun. Sekitar 99 persen dari total UMKM tersebut merupakan kategori usaha mikro dan 64 persen pelaku usaha dimiliki atau dikelola perempuan. Meski berperan penting dalam menggerakkan perekonomian nasional, Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 mencatat tingkat literasi dan inklusi keuangan perempuan masing-masing sebesar 65,58 dan 65,73 persen, sedangkan laki-laki masing-masing sebesar 67,32 dan 67,53 persen. Hal ini menegaskan perlunya penguatan literasi dan akses keuangan bagi perempuan agar lebih cermat dalam pengelolaan keuangan dan dalam mengakses produk dan layanan keuangan.
Selain itu, data dari Yayasan Mercy Corps Indonesia pada tahun 2022 menunjukkan hanya 51 persen perempuan pengusaha mikro dan kecil di perkotaan yang memiliki rekening aktif dan digunakan dalam 6 bulan terakhir karena literasi dan akses ke layanan keuangan yang terbatas. Minimnya kepemilikan aset, keterbatasan informasi, dan kurangnya pemahaman risiko membuat mereka sulit mengakses lembaga keuangan formal, terutama di era layanan berbasis digital. Padahal, 98 persen dari mereka sudah memiliki smartphone dan akses internet, hanya saja belum dimanfaatkan maksimal untuk mengembangkan bisnis, misalnya menggunakan aplikasi mobile banking (31 persen), dompet digital (30 persen), dan marketplace (32 persen).
Membuka Pintu Peluang untuk Kaum Muda Marginal
Pertumbuhan inklusif juga perlu menyasar kelompok muda yang masih menghadapi tantangan dalam mengakses pekerjaan. Sekitar 20 persen dari total penduduk muda berusia 15-24 tahun atau sekitar 9 juta orang berstatus NEET (Not in Education, Employment, or Training/tidak bersekolah, tidak bekerja, dan tidak mengikuti pelatihan) (BPS, 2024). Lebih dari itu, mengacu data tersebut, masih terdapat kesenjangan tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan (55 persen) dibandingkan laki-laki (84 persen). Pengangguran penyandang disabilitas juga mayoritas kaum muda berusia 15-34 tahun (ILO, 2022). Kondisi ini menegaskan masih perlu lebih banyak lagi dukungan untuk peningkatan keterampilan dan peluang kerja bagi kaum muda, terutama perempuan dan penyandang disabilitas, demi memastikan pertumbuhan yang inklusif.
Situasi ini mendorong DBS Foundation untuk berkolaborasi dengan Plan Indonesia melalui program You Rise (Youth be Ready, Inclusive, Skilled, Empowered) untuk membuka akses pelatihan bagi 100.000 kaum muda usia 18-29 tahun, termasuk 60 persen perempuan dan 3 persen penyandang disabilitas. Program ini akan diselenggarakan selama dua tahun di Jakarta, Medan, dan Surabaya. You Rise akan mengombinasikan pengembangan keterampilan, literasi keuangan, dan akses kerja agar peserta lebih siap memasuki pasar kerja serta membangun kesehatan finansial yang lebih stabil.
“Kaum muda memegang peran penting sebagai agen perubahan sekaligus cerminan masa depan bangsa. Oleh karena itu, dukungan terhadap mereka adalah investasi bagi kemajuan bersama. Tantangan ketenagakerjaan dan keterbatasan akses kerja tidak seharusnya menjadi penghalang, melainkan pemicu bagi kita untuk bergerak mencari solusi. Melalui program literasi finansial dan peningkatan keterampilan kerja bersama DBS Foundation, kami berkomitmen membantu mereka lebih siap bersaing. Kami percaya, ketika pintu kesempatan dibuka seluas-luasnya, kaum muda akan tumbuh menjadi kekuatan transformasi yang membawa perubahan nyata,” ungkap Executive Director Plan Indonesia Dini Widiastuti.



