Orang Betawi Lebaran Haji di Kampung Istri

mudik lebaran

Penulis: Murodi al_Batawi

GETPOST.ID, Jakarta – Dahulu, sekira 1990-an, untuk pertama kali mengikuti acara Lebaran Haji di kampung istri. Sungguh berbeda dari apa yang selama ini saya alami. Rangkaian acaranya sama seperti di kampung Betawi.

Read More

Satu hari menjelang jatuh hari Lebaran Haji, saya ikut pulang ke kampung istri. Saat itu, saya belum punya kendaraan pribadi, sehingga kami pulang naik bus dan kendaraan umum. Berdesakan dan pengap, karena dipadati penumpang. Meski penuh sesak, ternyata jika dinikmati, terasa indah, karena kami dapat berkumpul dengan keluarga besar istri di kampung. Setiba di kampung, disambut keluarga besar istri, ibu-bapak, paman, bibi, dan semua kerabat datang memberikan sambutan. Maklum, orang baru, yang datang jauh dari kota Jakarta.

Kemudian saat azan magrib menggema, kami pun berbuka puasa Arafah secara bersama. Makanan dan kuliner khas tersedia. Mulai dari semur daging, perkedel daging dan perkedel ikan tersaji di meja makan. Selesai berbuka, kami salat Maghrib berjamaah. Usai shalat, kami berbincang sambil melanjutkan menyantap hidangan. Dilanjutkan dengan istirahat sambil berbincang ngalor-ngidul. Tak terasa waktu Isya tiba dan kami semua menuju masjid untuk salat Isya berjamaah. Mengapa kami semua harus ke mesjid setiap datang waktu salat, karena keluarga mertua punya pondok pesantren yang di dalamnya pasti ada masjid, sehingga hampir setiap waktu salat dan pengajian kami pergi ke masjid.

Sehabis salat Isya berjamaah, sebagian kembali ke rumah, sebagian kumpul, ngariung, di masjid untuk tahlilan dan zikiran sambil warga membawa kudapan sebagai bahan makan yang akan diantar dan dimakan atau dibawa pulang usai tahlilan dan dzikiran.

Kemudian jamaah bertakbir bersama hingga larut malam, bahkan ada yang melanjutkan sampai menjelang waktu salat Subuh.

Takbir Keliling

Ada hal menarik yang saya saksikan saat malam takbiran. Sebagian besar masyarakat di kampung istri, berkumpul, tua muda, anak-anak, lelaki dan perempuan, semua berkumpul di suatu tempat. Mereka menunggu kendaraan yang mengangkut mereka pergi untuk takbir keliling kampung di jalan raya. Ada yang menaiki mobil truk, pikap, sedan, sepeda motor, sepeda, dan berjalan kaki. Mereka sangat senang bergembira bersama mengikuti acara tarling alias takbir Keliling pada malam takbiran. Cukup lama dan jauh mereka ikut takbiran ini. Perayaan takbiran keliling ini dilakukan hingga larut malam. Setelah itu mereka kembali ke rumah masing-masing.

Idul Adha: Lebaran Haji dan Kuliner Khas

Pada pagi hari, semua muslim pergi ke masjid untuk melaksanakan salat Idul Adha. Sambil menunggu waktu pelaksanaan salat Idul Adha, mereka bertakbir, bertahmid, dan bertahlil. Ketika datang waktu salat, semua bersiap: bilal, imam, dan khatib atau penceramah.

Usai shalat, mereka berbaris sambil bersalaman sambil maaf memaafkan, kemudian bubar dan kembali ke rumah masing-masing. Setibanya di rumah, mereka menyantap kudapan yang disediakan sejak pagi tadi. Kudapan itu berupa kuliner khas kampung isteri. Tidak ada ketupat dan sayur godog, serta semur daging.

Justru kudapannya uli bakar yang dimakan dengan perkedel daging. Dan satu lagi, ada kuliner khas Banten, magadim. Kuliner ini terbuat dari kaki kerbau atau sapi yang digodod hingga matang dan mengeluarkan sumsumnya. Mereka menyantapnya dengan penuh kenikmatan yang sangat menggugah selera bagi yang suka. Tapi buat saya malah berbalik. Saya tidak suka jenis kuliner ini, ada rasa tidak tega memakannya.

Namun, ada kuliner semula kurang suka, tapi akhirnya sangat suka, yaitu uli bakar dimakan dengan perkedel daging. Awalnya memang terasa aneh. Karena di Betawi, makan uli bakar biasanya dengan gula pasir atau dengan tape ketan hitam. Tapi lama kelamaan, saya sangat menikmat jenis kudapan uli bakar dengan perkedel. Inilah pengalaman menarik saya, Lebaran Haji di kampung orang.

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *