Migrain bukan Nyeri Kepala Biasa, Waspadalah Perempuan Lebih Berisiko

ilustrasi sakit kepala

GETPOST.ID, Jakarta- Sakit kepala belum tentu migrain. Tapi jika dibiarkan berlarut berbahaya juga karena jangan dianggap remeh. Pada seminar daring bertajuk “Migrain Bukan Nyeri Kepala Biasa”, dr. Tiersa Vera Junita M.Epid – Ketua Tim Kerja Gangguan Otak, Direktorat Pencegahan & Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI dalam mengatakan migrain adalah penyakit yang dapat memengaruhi kualitas hidup, dan dapat berkembang kronis sehingga mempengaruhi performa harian seseorang.

“Secara global, migrain termasuk salah satu masalah kesehatan yang paling banyak dikaitkan dengan disabilitas pada usia produktif. Migrain yang tidak tertangani dengan baik dapat berkembang menyebabkan masalah kesehatan mental, dan penggunaan obat yang berlebih, yang membuatnya semakin sulit untuk ditangani,” katanya.

Read More

Dalam rangka memperingati Bulan Kesadaran Migrain dan Sakit Kepala yang jatuh pada bulan Juni, Perhimpunan Dokter Spesialis Neurologi Indonesia (PERDOSNI), didukung oleh Pfizer Indonesia, mengadakan rangkaian kegiatan sesi  edukatif yang berlangsung dari 13 Juni hingga 3 Juli 2024 mendatang guna mengingatkan masyarakat untuk mengatasi penyakit migrain secara serius.

Dalam paparannya Dr. dr. Restu Susanti, Sp.N, Subsp.NN(K), M.Biomed dari PERDOSNI menyebutkan, “Migrain merupakan nyeri kepala intensitas berat, dan gejalanya biasanya berupa nyeri kepala berdenyut pada satu atau dua sisi kepala, disertai mual muntah, mengganggu aktivitas, dan dapat disertai sensitivitas terhadap cahaya maupun suara bising.”

Adapun temuan Laporan Survei Profil Penyakit Migrain yang dilakukan oleh IQVIA pada bulan Desember 2023 di antaranya sebagai berikut:

  • 67% responden mengalami migrain berturut-turut antara 6 bulan hingga 1 tahun
  • 50% penderita mengalami frekuensi terkena migrain 1-4 kali setiap bulan migrain
  • 57% penderita mengkonsumsi obat pusing biasa
  • Rata-rata tingkat “kesakitan” mencapai 8.2 [dari 0 (tidak sakit) s/d 10 (sangat sakit)
  • Rata-rata sebanyak 4.5x setiap bulannya terserang migrain dan mayoritas mengalami migrain “episodik”

Di samping itu, dr. Henry Riyanto Sofyan, Sp.N. Subsp.NN(K), ahli neurologi PERDOSNI menyebutkan bahwa migrain adalah kelainan neurologis yang tidak hanya menyebabkan sakit kepala, tetapi seringkali juga merupakan kumpulan gejala yang dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari, yang disebabkan oleh perubahan kimiawi tubuh dan otak, dan faktor genetik yang merupakan penyebab separuh dari semua migrain.

READ MORE

Henry Riyanto Sofyan, Sp.N. Subsp.NN(K)menjelaskan terdapat beberapa jenis migrain yaitu migrain dengan aura berupa sensasi kilatan cahaya pada salah satu lapangan pandang sebelum serangan nyeri, dan yang paling banyak adalah migrain tanpa aura. Berdasarkan perjalanan waktunya, migrain dapat dibagi atas migrain episodik jika nyeri kepala terjadi <15 hari dalam sebulan dan migrain kronis jika nyeri kepala >15 hari dalam sebulan dan sudah terjadi selama setidaknya 3 bulan. “Saat terkena migrain, pasien seringkali disertai  mual, muntah, dan kepekaan ekstrem terhadap cahaya dan suara, yang bisa berlangsung berjam-jam hingga berhari-hari sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari dan bahkan dapat melemahkan dan menyakitkan.”

Migrain akibat penggunaan obat yang berlebihan disebabkan oleh penggunaan obat yang kronis dan berlebihan untuk mengobati sakit kepala, sebagai gangguan sakit kepala sekunder yang paling umum. Tipe ini lebih banyak terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki.

Lebih lanjut dr. Henry Riyanto Sofyan, Sp.N. Subsp.NN(K) menguraikan bahwa gejala migrain dengan aura dapat berkembang melalui empat tahap yaitu prodromal, aura, serangan, dan pasca-dromal. Namun, tidak semua orang yang menderita migrain melewati semua tahapan tersebut.

Seminar Migrain bukan nyeri kepala biasa

Pada migrain klasik/migrain dengan aura dapat terjadi 4 tahapan sebagai berikut:

Prodromal terjadi satu atau dua hari sebelum migrain, dimana perubahan halus akan datangnya migrain dapat dirasakan, termasuk sembelit, perubahan suasana hati, dari depresi hingga euforia, mengidam makanan, leher kaku, peningkatan buang air kecil, retensi cairan, hingga sering menguap.

Aura atau kunang-kunang muncul sebelum atau selama migrain, bersifat visual tetapi dapat juga mencakup gangguan lain. Setiap gejala biasanya dimulai secara bertahap, berkembang selama beberapa menit dan dapat berlangsung hingga 60 menit.

Serangan migrain dapat berlangsung 4 hingga 72 jam jika tidak diobati, dan kejadian pada setiap orang dapat beragam. Seseorang dapat terkena serangan migrain beberapa kali dalam sebulan.

Post-dromal terjadi setelah serangan migrain, dimana pasien merasa lelah, bingung, dan tidak berdaya hingga seharian. Gerakan kepala yang tiba-tiba juga dapat menimbulkan rasa sakit lagi untuk sementara.

Sementara migrain tanpa aura adalah nyeri kepala dengan gambaran di atas tanpa disertai adanya aura.

Henry Riyanto Sofyan, Sp.N. Subsp.NN(K)mengingatkan, “Jika mempunyai riwayat sakit kepala, atau jika pola sakit kepala berubah atau sakit kepala terasa berbeda, atau sering mengalami tanda dan gejala migrain, catat serangan yang dialami dan cara Anda menanganinya, segera konsultasi dengan dokter, untuk menyingkirkan adanya masalah medis yang lebih serius serta untuk mendapatkan penanganan yang tepat berdasarkan tipe nyeri kepalanya”.

Seorang ‘Pejuang Migrain’, Muhammad Ainul Fahmi dari Surabaya mengatakan bahwa penting untuk memahami migrain. Fahmi menyarankan untuk melakukan beberapa perawatan seperti kompres panas atau dingin untuk mengurangi ketegangan, beristirahat di tempat yang tenang, melakukan pijatan lembut pada kepala yang terasa sakit, menambah konsumsi air minum, tidur yang cukup, menjaga pola makan yang sehat, olahraga aerobik untuk meregangkan otot yang tegang, dan jangan lupa selalu konsultasi dengan dokter.

Untuk menurunkan atau menghindari serangan migrain, Fahmi berolahraga secara teratur, termasuk latihan aerobik seperti jalan kaki, jogging, atau bersepeda; mengelola stres baik melalui terapi atau melakukan relaksasi; membuat jadwal kegiatan dan kebiasaan yang teratur termasuk waktu makan dan waktu tidur; serta mengupayakan keseimbangan hidup dengan pilihan gaya hidup sehat.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *