Berkat, Takbir, Tahlilan Keliling, dan Obor Jalanan

dok.istimewa

GETPOST.ID, Jakarta – Ketika kecil dulu, setiap malam takbiran, ada tradisi yang juga mulai terkikis, yaitu tradisi tahlilan keliling, dari satu rumah ke rumah. Kegiatan tahlilan keliling itu diawali dengan salat Magrib berjamaah diikuti dengan dzikir dan berdoa bersama hingga datang waktu salat ‘Isya.

Setelah adzan Isya berkumandang, semua jamaah bersiap melaksanakan salat Isya berjamaah. Setelah menunaikan shalat sunah bada Isya, para warga bersiap mengawali tahlilan keliling dengan bertahlil berjamaah di masjid.

Read More

Usai berzikir, kemudian para jama’h mulai bertakbir sejenak, sambil bersiap pergi ke rumah penduduk yang memang sudah lama menanti. Satu per satu mulai berjalan menuju lokasi rumah pertama. Karena jamaahnya berasal dari satu atau dua RT, rumah pertama yang dikunjungi adalah rumah pak RT, setelah itu para jamaah mendatangi rumah-rumah penduduk lainnya.

Setelah para jamaah berkumpul di rumah pak RT, kemudian baru dimulai acara tahlilan. Acara seperti ini biasanya dipimpin oleh imam masjid atau tokoh agama di kampung itu.

Dan biasanya, dalam acara tahlilan tersebut, tersedia panganan cukup mewah untuk ukuran saat itu. Ada menu nasi putih dengan lauk semur daging, bekakak ayam, ikan bandeng dan kuliner ajib lainnya.

Usai tahlilan, para peserta kemudian makan bersama, mukbang. Setelah selesai tahlilan dan makan bersama, kemudian tuan rumah menyediakan kresek plastik dan sejenisnya sebagai wadah makanan yang akan dibawa pulang.

Banyak juga para peserta tahlilan membawa tempat sendiri yang sengaja dibawa dari rumah. Ada yang membawa keresek sendiri, bahkan ada yang membawa kantong karung terigu bekas yang sudah dicuci bersih. Semua makanan yang disukai, diambil, dan dimasukkan ke wadah plastik atau kantong terigu bekas.

Jika semua rumah dikunjungi, maka dipastikan kantong karung terigu yang dibawa dari rumah pasti penuh. Sesampainya di rumah, kantong itu dibuka dan dipilah-pilah.

dok.istimewa

Takbir Keliling dan Obor Jalanan

Dahulu pada tahun 70-an, ketika belum ada listrik, semua rumah masih menggunakan lampu penerang, petromax, yang legendaris. Jika memasuki waktu pukul 10 malam, lampu dipadamkan. Karenanya kampung jadi gelap dan sepi, kecuali saat malam Takbiran. Suasana sudah pasti terang benderang, tidak gelap dan jadi ramai.

Selain petromax, khusus di malam Takbiran, biasanya masyarakat membuat penerangan dari obor yang dibuat dari batang bambu yang diberi minyak tanah.

Obor tersebut juga sering digunakan sebagai alat penerang malam hari saat pulang dari masjid usai mengaji. Dan di malam Takbiran, obor juga dijadikan alat penerang jalan atau digunakan ketika melakukan pawai takbir keliling.

Pawai takbir keliling sepengetahuan saya, masih banyak dilakukan muslim Indonesia yang diikuti generasi mudanya. Sehingga bisa dapat dipastikan bahwa tradisi ini masih akan terus ada, selagi tetap terus dirawat dengan baik.

Penulis: Murodi al-Batawi

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *