Randi Ade Candra, Anak Penjual Gorengan yang Ingin Membangun Desanya

GETPOST.ID, Jakarta- Randi Ade Candra, salah satu pejuang Sigap Sejahtera (PSS) dari 111 fasilitator yang mengikuti pelatihan dalam rangka pembekalan tentang seni fasilitasi, komunikasi dan lain-lain yang dilaksanakan sejak 27 Januari hingga 2 Februari 2020 di Yon Armed 18/Komposit, Labanan, Berau, Kalimantan Timur. Meski lelah, Randi tetap semangat.

Program Sigap Sejahtera ini merupakan ikhtiar dari Yayasan Konservasi Alam Nusantara, Yayasan Dharma Bhakti Berau Coal, Universitas Gadjah Mada serta pemerintah Kabupaten Berau melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kampung (DPMK).

Dalam program Sigap Sejahtera ini, Randi menjadi fasilitator kecamatan dari Biduk-biduk — satu dari 12 kecamatan di Kabupaten Berau yang dikenal dengan eksotisme alamnya. Tugasnya di tahun kedua ini adalah mengkoordinasikan enam fasilitator kampung yang juga bersamanya mengikuti pelatihan Sigap di markas Yonarmed-18 ini.

Randi mengaku mendapatkan banyak hal positif dari keikutsertaannya dalam pelatihan yang menghadirkan aktifis pemberdayaan masyarakat dari Yayasan Tunas Tani Mandiri (Nastari) Bogor. Ia pun mengaku tidak terlalu gelisah dengan pendidikan ala militer yang didapat selama pelatihan.

“Semasa mahasiswa saya sudah pernah mendapatkan pelatihan semacam ini. Tapi saya tetap senang karena menjadi lebih memahami tentang peran Sigap sekaligus juga mendapatkan banyak teman,” ujar alumnus Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura, Pontianak.

Mengenai keterlibatannya di program Sigap ini, Randi terpikat karena idealisme darah mudanya yang ingin berperan dalam membangun kampung halamannya. Ia mafhum tanpa peran kaum muda berpendidikan maka laju pertumbuhan di pelosok kampung akan sangat sulit diraih.
“Saya hanya ingin menjadi bagian kecil saja dalam usaha membangun kampung,” kata pria yang gemar menjelajahi hutan ini.

Panggilan hati pria 29 tahun ini untuk membangun kampung tentunya bukan tanpa alasan. Paling tidak, ia ingin membuat kedua orang tuanya bisa berbangga. Maklum, Randi bukanlah anak kota besar yang hidup dalam bergelimang kesenangan. Ibunya, Karmila, hanya seorang pedagang gorengan di kampung halamannya. Sedangkan, Aidil yang menjadi ayahnya, berprofesi sebagai petani.

Walau berlatar belakang dari keluarga miskin di pelosok kampung namun Randi tak pernah berkecil hati untuk bermimpi besar. Seperti halnya kisah Ikal dalam novel berjudul Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, Randi ingin kehidupan keluarganya bisa lebih baik lewat pendidikan.

Sebagai anak pertama dari enam bersaudara, ia telah memberikan teladan agar adik-adiknya bisa bersekolah yang tinggi demi mengejar impian. “Pendidikan itu jadi hal utama bagi kami di keluarga,” katanya.

Apa yang diucapkan Randi itu, paling tidak sudah mulai mewujud. Selain dirinya yang sekarang menyandang status sarjana pertanian, adik keduanya yang bernama Rio Andri Candra sekarang ini telah menjadi tentara yang lulus lewat pendidikan militer. Lalu adik ketiganya, Desi Anugera Safitri, sedang menempuh pendidikan magister ilmu Pemulian Tanaman di Institut Pertanian Bogor (IPB).

Sedangkan Devi Apriliani yang menjadi anak keempat, sekarang ini tengah menempuh pendidikan ilmu administrasi negara di Universitas Widia Gama Samarinda. “Kalau adik saya yang kelima dan keenam masih sekolah di SMP dan SD,” katanya.

Kini, impian pria berpostur 160 cm ini tak ingin terlalu muluk. Menjadi bagian dari fasilitator program Sigap Sejahtera, Randi hanya ini ingin berusaha membawa enam kampung yang menjadi wilayahnya menuju kampung mandiri.

Ia bercerita selama setahun terakhir, telah banyak perubahan yang terjadi di kampung dengan hadirnya fasilitator Sigap. Kampung Teluk Sumbang dan Teluk Sulaiman yang dua tahun silam masih bertatus sebagai kampung tertinggal versi penilaian Indeks Desa Membangun, maka tahun lalu statusnya melompat menjadi berkembang dan maju. Lalu, kampung Giring-giring, Biduk-biduk, dan Tanjung Perepat, yang awalnya berstatus berkembang telah berubah menjadi kampung maju.

“Kini hanya tinggal mendorong potensi kampung saja untuk menjadikan kampung-kampung yang sudah maju itu bisa menjadi kampung mandiri. Inilah impian kami sebagai pejuang Sigap,” kata Randi.

NAYLA

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *




Enter Captcha Here :